Jakarta, Harian Umum - Serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah berhasil membuat pangkalan-pangkalan militer itu hancur dan porak poranda.
Hal itu diketahui berdasarkan laporan The New York Times (NYT) sebagaimana dikutip Al Madayeen, Kamis (26/3/2026).
"Operasi militer AS di seluruh Asia Barat (Timur Tengah, red) menghadapi tekanan yang semakin meningkat setelah serangan Iran yang berkelanjutan membuat pangkalan-pangkalan utama Amerika semakin tidak layak huni, memaksa pasukan untuk menyebar dan beroperasi dari lokasi "improvisasi" di seluruh wilayah tersebut," kata NYT.
Media itu menambahkan, sejumlah besar personel AS telah pindah ke lokasi sementara, termasuk hotel dan ruang perkantoran, karena pangkalan militer Mereke berulang kali diserang Iran dengan rudal dan drone. Kondisi ini secara efektif telah mengubah sebagian upaya perang AS menjadi operasi jarak jauh, dengan personel bekerja jauh dari pusat komando tradisional.
Laporan NYT ini muncul setelah pejabat Iran, termasuk juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, mengingatkan tentang penggunaan area sipil oleh pasukan AS, termasuk hotel, untuk mendirikan ruang operasi darurat.
Pada 1 Maret, enam tentara Angkatan Darat AS tewas di pusat komando darurat di Pelabuhan Shuaiba, Kuwait. Meskipun pilot tempur dan awak pesawat terus beroperasi dari lapangan udara aktif, menurut NYT, sebagian besar aparat militer berbasis darat telah dipaksa ke konfigurasi yang terdesentralisasi dan kurang mampu, yang mempersulit komando, kendali, dan koordinasi.
Seperti diketahui, serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer AS dipicu serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyed Ali Khamenei. Hingga hari ini, Iran telah melancarkan lebih dari 80 serangan balasan dalam operasi yang dinamai True Promise 4.
Serangan balasan dengan rudal dan drone itu membuat beberapa pangkalan AS di Kuwait mengalami kerusakan parah, termasuk Pangkalan Udara Ali Al-Salem dan Kamp Buehring. Serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan ini menghancurkan fasilitas pesawat, depot bahan bakar, dan infrastruktur pemeliharaan.
Di tempat lain di wilayah tersebut, serangan Iran terus mengganggu kemampuan militer AS. Di Qatar, Pangkalan Udara Al Udeid, tempat markas besar Komando Pusat AS (CENTCOM) berada, mengalami kerusakan pada sistem radar peringatan dini yang penting, simpul komunikasi, hanggar, dan fasilitas lainnya.
Di Bahrain, serangan pesawat tak berawak menargetkan infrastruktur komunikasi di markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, sementara di Arab Saudi, Pangkalan Udara Pangeran Sultan mengalami serangan terhadap pesawat pengisian bahan bakar dan sistem komunikasi.
'Satu serangan di Pangkalan Udara Pangeran Sultan menewaskan sedikitnya satu tentara dan melukai beberapa lainnya," lapor NYT.
Skala dan ketepatan serangan ini menggarisbawahi kemampuan Iran untuk menantang kehadiran militer AS di berbagai front, menantang asumsi dominasi operasional Amerika di kawasan tersebut.
Relokasi pasukan AS dari pangkalan-pangkalan militer yang dihancurkan Iran, mencerminkan intensitas serangan Iran dan kerentanan struktural yang lebih dalam dalam postur regional Washington.
Sebelum pecahnya perang, sekitar 40.000 pasukan AS ditempatkan di seluruh Asia Barat. Ribuan telah dipindahkan, beberapa hingga ke Eropa, sementara yang lain tetap berada di wilayah tersebut tetapi tidak lagi beroperasi dari pangkalan yang sudah ada.
Para pejabat militer AS mengakui bahwa meskipun operasi yang terdesentralisasi memungkinkan kontinuitas, hal itu menimbulkan biaya. Hilangnya infrastruktur tetap membatasi penyebaran peralatan berat dan sensitif, mengurangi efektivitas operasional secara keseluruhan.
Laporan tersebut juga menunjukkan kekurangan dalam perencanaan AS sebelum konflik. Pemerintah tidak secara signifikan mengurangi personel diplomatik atau militer di wilayah tersebut sebelum permusuhan dimulai, dan juga tidak mengeluarkan peringatan dini kepada warga sipil, sehingga aset-aset mereka rentan begitu Iran melancarkan serangan balasan.
Menurut CENTCOM, 290 anggota militer telah terluka akibat perang tersebut, dan 13 lainnya tewas.
Total pangkalan militer AS di Timur Tengah yang telah diserang Iran sebanyak 13 unit. (man)


