Jakarta, Harian Umum - Iran bersumpah akan memberikan kejutan besar kepada Amerika Serikat (AS) jika negara itu merealisasikan ancamananya untuk melakukan serangan darat ke Iran.
“Jelas, serangan darat di tanah Iran adalah salah satu garis merah kami, dan seperti halnya kami memberikan kejutan terhadap setiap operasi musuh, kami akan menunjukkannya lagi dalam kasus ini juga," kata seorang pejabat Iran kepada Tasnim News Agency dikutip Sabtu (21/3/2026).
Pejabat itu mengingatkan bahwa perang ini dimulai oleh AS-Israel, dan Iran merespon dengan memberikan pembalasan dan melancarkan perang regional, karena serangan AS-Israel itu juga membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
“Ketika infrastruktur energi kami diserang, semua infrastruktur energi di wilayah tersebut menjadi tidak aktif, dan kali ini juga, kami siap, sehingga jika teroris Trump melakukan kesalahan dalam hal ini, kami akan memberikan kejutan kepadanya sedemikian rupa sehingga dia bahkan tidak akan mampu memindahkan peti mati tentaranya dari tanah kami," ancam pejabat itu lagi.
Pejabat itu juga mengingatkan, penghancuran pulau-pulau Iran oleh AS-Israel menyebabkan kehancuran wilayah pesisir UEA.
"Dan tentu saja, Dubai dan Abu Dhabi mungkin tidak "hanya" berada pada tahap awal serangan ini," tegasnya.
Sebelumnya, Anadolu melaporkan pada Jumat (20/3/2026) bahwa pemerintahan Trump sedang melakukan persiapan terperinci untuk mengerahkan pasukan darat AS ke Iran.
Hal itu terjadi sehari setelah Presiden Donald Trump mengatakan kepada wartawan dalam konferensi pers bahwa dirinya tidak akan menempatkan pasukan di mana pun.
"Jika saya akan melakukannya, saya tentu tidak akan memberi tahu Anda," katanya.
CBS News melaporkan bahwa para komandan militer senior telah mengajukan permintaan khusus yang bertujuan untuk mempersiapkan pengerahan pasukan darat Amerika di Iran saat presiden berkoordinasi dengan Israel tentang penggunaan bersama sumber daya militer AS dan Israel.
Namun, Gedung Putih menyatakan bahwa belum ada keputusan terkait kemungkinan langkah militer oleh Presiden AS.
"Melakukan persiapan guna memberikan pilihan maksimal kepada Panglima Tertinggi adalah tugas Pentagon, itu tidak berarti Presiden telah membuat keputusan, dan seperti yang dikatakan Presiden, dia tidak berencana mengirim pasukan darat ke mana pun saat ini," kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt.
Selain potensi penggunaan pasukan darat AS, laporan tersebut mengatakan bahwa para pejabat militer telah mengadakan pertemuan untuk mempersiapkan bagaimana menangani tawanan perang jika tentara dan personel paramiliter Iran ditahan, dan di mana para tahanan tersebut akan ditahan.
Awalnya, Trump mempertimbangkan untuk mengerahkan pasukan darat karena Iran terus menyerang infrastruktur minyak di wilayah Teluk, termasuk serangan drone pada Jumat yang mengenai kilang minyak di Kuwait. Iran juga telah menembakkan rudal ke target di Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Sekitar 4.000 anggota militer AS ditempatkan di Iran, termasuk 2.500 Marinir, menurut Newsmax. Pasukan ditempatkan di atas tiga kapal amfibi, yang menampung jet tempur F-35, rudal, dan kendaraan amfibi yang mampu diluncurkan dari kapal untuk serangan darat.
Angka terbaru yang dirilis oleh militer AS mengungkapkan bahwa 13 anggota militer telah tewas dalam perang sejauh ini dan 200 tentara telah terluka, tanpa pasukan di darat. (man)


