Jakarta, Harian Umum - Amerika Serikat (AS) telah memasuki mode tanggap darurat karena HV Hondius, kapal pesiar asal Belanda yang dilanda wabah hantavirus mematikan, sedang berlayar menuju Tenerife, salah satu Kepulauan Canary, Spanyol.
Di pulau itu, 150 penumpang kapal tersebut akan dievakuasi, di mana 17 di antaranya merupakan warga AS.
"Pejabat kesehatan negara bagian dan lokal di AS sedang memantau setidaknya delapan penumpang yang turun pada 24 April dan kembali ke rumah. Untuk saat ini, individu-individu tersebut tidak diminta untuk mengisolasi diri, karena mereka belum menunjukkan gejala," demikian dilansir CBS News, Minggu (10/5/2026).
"Setibanya d Tenerife, ke-150 penumpang yang semuanya diketahui tidak memiliki gejala Hantavirus, akan dibawa ke area yang "benar-benar terisolasi dan dipagari" di Tenerife, kemudian menaiki kendaraan yang dijaga untuk mengangkut mereka ke bagian bandara setempat yang juga akan dipagari," kata Virginia Barcones, kepala layanan darurat Spanyol, saat konferensi pers pada Kamis (7/5/2026) waktu setempat.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dalam sebuah pernyataan, Jumat (8/5/2026), mengatakan bahwa mereka mengirim tim ahli epidemiologi dan tenaga medis ke Kepulauan Canary untuk menemui warga AS yang akan diterbangkan dari pulau itu ke Pangkalan Angkatan Udara Offutt di Omaha, Nebraska.
Di sana, ke-17 warga AS itu akan diangkut ke Unit Karantina Nasional di Pusat Medis Nebraska di Omaha.
“Karena status penyakit penumpang yang terpapar tidak diketahui dan petugas tanggap darurat akan melakukan kontak dekat dengan individu yang berpotensi menunjukkan gejala, masuk akal bagi petugas tanggap darurat untuk mengenakan sarung tangan (karet atau lateks), masker respirator seperti N95, gaun pelindung, dan pelindung mata,” kata seorang ahli epidemiologi CDC dalam sebuah pesan teks.
Belum diketahui berapa lama karantina akan berlangsung, akan tetapi Dr. Michael Ash, kepala eksekutif Nebraska Medicine, dalam sebuah pernyataan yang dirilis Jumat mengatakanl, pihaknya siap untuk situasi seperti ini.
“Tim kami telah berlatih selama beberapa dekade bersama mitra federal dan negara bagian untuk memastikan kami dapat memberikan perawatan dengan aman sekaligus melindungi staf kami dan masyarakat luas," katanya.
Seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan, penerbangan repatriasi tersebut merupakan bagian dari upaya terkoordinasi antara CDC, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, dan pemerintah Spanyol.
Seorang pejabat CDC mengatakan kepada NBC News bahwa divisi Kesehatan Migrasi Global, lembaga tersebut yang mencakup para ahli hantavirus, "memimpin sebagian besar keterlibatan dengan negara-negara, khususnya upaya repatriasi".
Di kantor pusatnya di Atlanta, CDC telah mengaktifkan Pusat Operasi Daruratnya, sebuah lokasi fisik tempat para ahli kesehatan masyarakat dapat melacak perkembangan dan mengoordinasikan respons mereka terhadap wabah tersebut. Badan tersebut telah mengklasifikasikan wabah hantavirus sebagai "level 3," yang merupakan tingkat kekhawatiran terendah.
Meskipun banyak dari upaya ini merupakan respons standar terhadap ancaman kesehatan internasional, beberapa ahli kesehatan masyarakat mengatakan bahwa tidak lazim bagi CDC untuk belum mengadakan pengarahan publik tentang wabah tersebut. Banyak ahli juga khawatir bahwa keluarnya AS dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Januari 2026 lalu, berarti negara tersebut tidak akan menjadi yang pertama menerima pembaruan tentang hantavirus.
Ketika ditanya tentang kekhawatiran ini, HHS merujuk pada pernyataan di situs web CDC yang mengatakan bahwa pemerintah "bekerja sama erat dengan mitra internasional kami" dan Gedung Putih mengatakan bahwa pemerintah "tetap waspada".
Diberitakan sebelumnya, wabah Hantavirus diketahui berjangkit di HV Hondius ketika tiga penumpangnya meninggal dunia dan tiga lainnya sakit. Saat itu, kapal pesiar tersebut sedang berlayar di Samudera Atlantik, Minggu (3/5/2026), antara Argentina dan Tanjung Verde
Dari pemeriksaan, WHO mengungkap bahwa mereka terinfeksi Hantavirus, virus yang menyebabkan demam, kelelahan, mual, dan kesulitan bernapas.
Infeksi ini jarang terjadi, tetapi seringkali mematikan. Masa inkubasinya dapat berlangsung hingga 6 minggu.
Menurut WHO, di AS, tingkat kematian akibat Hantavirus mencapai 50%. (man)







