Teheran, Harian Umum - Media Iran menuding Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah memanipulasi pasar dengan merekayasa informasi seolah-olah ada perundingan antara pihaknya dengan Iran untuk menghentikan perang, padahal perundingan itu tidak ada
"Demi kepentingannya, AS tampaknya telah mengeksploitasi rumor perang yang dibuat-buat terhadap Iran, memicu lonjakan perdagangan yang mencurigakan hanya beberapa menit sebelum unggahan Donald Trump di Truth Social yang mengklaim adanya "pembicaraan" dengan Teheran," kata kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, Rabu (25)3/2026).
Media ini pun menyebut bahwa tindakan Trump itu menimbulkan pertanyaan baru tentang penyalahgunaan disinformasi terkait konflik antara pihaknya dengan AS dan Israel, oleh AS, karena klaim Trump bahwa ada percakapan antara pihaknya dengan Iran untuk menghentikan perang, memicu lonjakan tajam pada kontrak berjangka saham, sementraa harga minyak turun tajam dari kisaran US$ 100 per barel.
Namun, Tasnim melihat lonjakan perdagangan itu mencurigakan karena terjadi justru 15 menit sebelum Trump memposting di akun Truth Social-nya, bukan setelahnya.
"Fakta ini menimbulkan tuduhan baru bahwa Washington sengaja mempersenjatai berita perang untuk menurunkan ketegangan pasar demi keuntungan finansial," kata Tasnim lagi.
Media ini mencatat, kontrak berjangka S&P 500 dan kontrak minyak mengalami lonjakan volume besar-besaran jauh di atas level pra-pasar normal, dengan para pedagang memasang taruhan senilai ratusan juta dolar karena yakin saham akan naik dan minyak akan turun.
Laporan dari media Amerika dan Inggris, termasuk CNBC, Financial Times, Daily Mail, dan Bloomberg, mendokumentasikan anomali tersebut, karena mereka mencatat bahwa ribuan kontrak minyak berpindah tangan dalam hitungan detik dengan volume hingga 16 kali lipat dari rata-rata, sementara hampir $2 miliar perdagangan berjangka S&P 500 terjadi 15 menit sebelum Trump memposting di Truth Social-nya di mana dalam postingan itu Trump juga menyebutkan bahwa karena ada pembicaraan antara pihaknya dengan Iran, maka serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran, ditunda.
"Para kritikus mengatakan pola ini sesuai dengan taktik yang biasa digunakan pemerintahan AS, yaitu ancaman provokatif terhadap Iran yang diikuti dengan klaim kemajuan yang tiba-tiba untuk memanipulasi pasar global, sehingga memungkinkan para pemain yang memiliki koneksi kuat untuk mendapatkan keuntungan, sementara investor biasa dan ekonomi yang bergantung pada minyak menderita volatilitas," kata Tasnim lagi
Diberitakan sebelumnya, pada Senin (23/3/2026) waktu AS, Trump memposting di akun Truth Social-nya bahwa sedang ada pembicaraan antara pihaknya dengan Iran untuk menghentikan perang, dan karena ada pembicaraan itu, maka rencana AS untuk menyerang pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran, ditunda.
Iran langsung membantah postingan itu dengan mengatakan bahwa tidak ada pembicaraan seperti yang dikatakan Trump, karena Iran ingin perang diteruskan, kecuali jika AS mau memberikan kompensasi atas semua kerusakan dan kerugian yang dialami Iran akibat serangan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu, dan ada jaminan bahwa AS maupun Israel tidak akan pernah lagi menyerang Iran.
Apalagi karena Iran tahu, AS dan Israel menyerang Iran untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian, dan menggantinya dengan pemerintahan boneka yang dapat dikendalikan dan tunduk kepada AS maupun Israel.
"Para pejabat Iran mengecam taktik manipulasi Trump sebagai contoh lain dari pengabaian Washington yang sembrono terhadap stabilitas internasional demi mengejar keuntungan dan dominasi," pungkas Tasnim. (man)







