Teheran, Harian Umum - Iran memobilisasi 1 juta pejuangnya untuk melakoni perang darat yang akan dikobarkan Amerika Serikat (AS) untuk membuka Selat Hormuz yang ditutup Iran sejak 28 Februari 2026 atau sejak hari pertama AS dan Israel menyerang Negeri Para Mullah itu.
Jumlah pejuang yang dikerahkan Iran ini lima kali lipat dari pasukan yang dikirim AS untuk perang darat tersebut, karena untuk melakoni perang tersebut, AS mengerahkan 2.000 pasukan darat.
"Seorang narasumber di lingkungan militer mengungkapkan bahwa lebih dari satu juta pejuang Iran telah dimobilisasi untuk konfrontasi darat dengan pasukan Amerika," kata Tasnim News Agency, Jumat (27/3/2026).
Sumber itu menjelaskan, dengan meningkatnya spekulasi tentang kemungkinan "kesalahan historis" oleh AS dalam melancarkan invasi darat di front selatan Iran, gelombang antusiasme telah muncul di antara para pejuang darat Iran untuk menciptakan "neraka historis" bagi Amerika di tanah Iran.
Sumber tersebut mencatat bahwa selain mengorganisir lebih dari satu juta pejuang untuk pertempuran darat, dalam beberapa hari terakhir telah terjadi peningkatan besar permintaan dari pemuda Iran yang ditujukan ke pusat-pusat Basij, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan Angkatan Darat untuk juga berpartisipasi dalam pertempuran ini.
“AS ingin membuka Selat Hormuz dengan taktik bunuh diri dan penghancuran diri; itu tidak masalah. Kami siap untuk strategi bunuh diri mereka dieksekusi dan agar Selat tetap tertutup,” tambah sumber militer tersebut.
AS dan Israel menyerang Iran untuk menggulingkan pemerintahan Revolusi Iran dan menggantinya dengan pemerintahan boneka yang dapat dikendalikan dan diatur kedua negara tersebut. Presiden AS Donald Trump sempat sesumbar bahwa perang ini hanya akan berlangsung beberapa hari, karena menurut Trump, serangan pertama pada 28 Februari bukan saja telah membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Sayyed Ali Khamenei dan beberapa komandan militer senior Iran, akan tetapi militernya pun telah dilumpuhkan.
Namun, Trump salah perhitungan, karena serangan balasan Iran bulan saja membuat perang masih berlangsung sampai hari ini, akan tetapi juga membuat kota-kota di Israel terutama Tel Aviv, luluh lantak, akan tetapi sedikitnya 13 pangkalan militer AS di sejumlah negara Teluk seperti di Kuwait, Bahrain, Aran Saudi dan Qatar, dihancurkan Iran.
Tak hanya itu, Iran menutup Selat Hormuz dan hanya mengizinkan kapal-kapal tanker milik negara-negara sekutunya, seperti Rusia dan China, yang boleh melewati selat itu, sementara kapal-kapal tanker AS dan negara-negara sekutunya dilarang lewat, dan langsung dirudal ketika mendekati selat itu.
Akibatnya, harga minyak dan gas cair dunia meroket tajam dan memicu krisis energi di berbagai negara, termasuk di AS Di negara Trump itu, harga bensin bahkan sempat menyentuh 8 dolar per liter, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga memicu kepanikan warga AS. (man)







