Jakarta, Harian Umum -- Seorang perempuan warga negara Indonesia (WNI) bernama Kezia Syifa bergabung dengan Army National Guard di Maryland, Amerika Serikat.
Hal ini diketahui dari video yang di-posting di akun Instagram @bunda_kesidaa, dan langsung viral.
Dalam video itu terlihat momen ketika keluarga melepas keberangkatan Syifa di salah satu bandara di AS.
"Haru! Momen Ortu antar anaknya untuk berangkat tugas jadi tentara Amerika, walau berat," demikian caption di postingan itu dikutip Jumat (23/1/2026).
Syifa nampak berseragam loreng cokelat bertuliskan "US Army" di bagian dada kiri, yang merujuk pada Angkatan Darat Amerika Serikat. ia berhijab warna hitam, dan membawa ransel besar di punggungnya.
Ia mencium tangan ibu dan ayahnya, serta mendapat ciuman sayang dari mereka, lalu melangkah menjauh.
Dari caption di postingan Instagram tersebut diketahui kalau Syifa resmi bergabung dengan Maryland Army National Guard sebagai MOS 92A sejak tahun 2025.
"Syifa tertarik bergabung dengan Army National Guard di Maryland itu karena Syifa telah bersekolah di Amerika sejak tahun 2023 dan lulus di tahun 2025. Setelah lulus sekolah, dia ingin melanjutkan pendidikan dan kariernya," kata Safitri, ibunda Syifa, dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (23/1/2026).
Soal mengapa Syifa lebih memilih menjadi tentara AS, Safitri mengatakan bahwa Syifa ingin pendidikan yang bisa membuatnya mandiri dan bertanggung jawab pada diri sendiri serta ingin membanggakan orang tua.
"Dia berkeinginan untuk masuk ke dalam militer tentara di AS lebih tepatnya ikut Army National Guard di Maryland," imbuhnya..
Terkait status kewarganegaraan, Safitri menyebut Syifa tengah menjalani proses perpindahan dari WNI menjadi warga negara AS setelah resmi lulus sebagai anggota Garda Nasional.
"Untuk saat ini, yang saya ketahui, masih proses pindah kewarganegaraan," ujarnya.
Safitri mengaku, keputusan Syifa untuk pindah kewarganegaraan telah dibahas bersama keluarga sejak awal. Syifa juga tidak mempermasalahkan pelepasan status WNI karena mengikuti ketentuan hukum yang berlaku di kedua negara.
"Di tahap pertama kami sudah berdiskusi semua sebagai keluarga tentang masalah ini. Syifa sendiri tidak ada masalah karena ia mengikuti hukum yang berlaku, baik di Indonesia maupun di AS. Jadi saat ini, Syifa tidak merasa berat atau kesulitan sama sekali," tambah dia.
Safitri mengakui keluarga sempat merasa khawatir dengan pilihan Syifa untuk bergabung dengan militer AS. Namun, kekhawatiran itu berkurang setelah mengetahui posisi yang dijalani putrinya berada di bidang administrasi dan logistik.
"Awalnya memang ada rasa kekhawatiran dan cemas, tapi setelah kita mencari informasi dari beberapa kalangan, dan yang kita ketahui tentang army di sini itu ternyata tidak dikhawatirkan seperti yang kita dibayangkan," ujar Safitri.
Selain itu, Safitri menyebut posisi yang dijalani Syifa nanti setelah menyelesaikan pelatihan militernya akan ditempatkan pada bagian awal ia mendaftar.
"Anak saya itu mendaftar untuk pekerjaan sebagai office atau di back office. Jadi, tidak terjun ke medan perang," ujarnya. (man)







