Jakarta, Harian Umum - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas sejak awal pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2026).
Saat perdagangan dibuka, IHSG jatuh ke posisi 8.393,51, dan sempat berupaya bangkit dengan menyentuh level tertinggi harian di 8.596,17, akan tetapi tidak bertahan lama karena pada pukul 11:15 WIB, indeks tercatat turun 7,71 persen atau 692,47 poin ke level 8.287,76.
Kejatuhan IHSG ini diikuti oleh sebagian besar saham milik konglomerat Tanah Air. Saham milik Prajogo Pengestu misalnya, kompak terkoreksi pagi ini, karena saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah hingga Auto Reject Bawah (ARB) 14,81% ke harga Rp 2.300 per lembar saham; saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) anjlok 11,84% ke level Rp 8.375 per lembar saham.
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga tercatat melemah 5% ke harga Rp 6.650 per lembar saham, sementara saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) anjlok 12,14% ke harga Rp 1.230 per lembar saham.
Saham konglomerasi Bakrie juga terpantau melemah di mana saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terkoreksi 11,58% ke harga Rp 1.145 per lembar saham; saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) anjlok 14,53% ke harga Rp 294 per lembar; saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) turun 9,42% ke harga Rp 125 per lembar saham; dan saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) melorot 14,97% ke harga Rp 1.420 per lembar saham
Saham milik konglomerat Hapsoro juga ikut terkoreksi di mana saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) terkoreksi hingga ARB 15% ke harga Rp 1.445 per lembar saham; saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) anjlok 15% ke harga Rp 4.590 per lembar saham; dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang rontok 14,97% ke harga Rp 6.250 per lembar saham.
Saham milik Sugianto Kusuma alias Aguan juga terkoreksi, karena saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) terkoreksi 14,89% ke harga Rp 9.575 per lembar saham; dan saha PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) melemah 14,68% ke harga Rp 6.250 per lembar.
Respon BEI
Merespons hal tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan akan melakukan koordinasi intensif dengan semua pemangku kepentingan untuk merespons kondisi pasar yang bergejolak hari ini.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan bahwa BEI akan menempuh berbagai langkah yang diperlukan bersama para pemangku kepentingan pasar modal.
“Jadi, pada hari ini pada intinya kita akan melakukan segala effort kerja sama dengan tentunya semua stakeholder kita untuk follow up hal-hal yang dipandang perlu,” katanya saat dikonfirmasi wartawan.
Terkait arah pergerakan IHSG pada perdagangan berikutnya, ia menegaskan, pihaknya masih akan mencermati dinamika pasar.
“Lihat kondisi ya,” paparnya.
Penyebab Kejatuhan IHSG
IHSG terjun bebas setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait metodologi penghitungan free float.
Berdasarkan pengumuman MSCI yang dipublikasikan pada Selasa (27/1/2026) waktu setempat, ditetapkan sejumlah perubahan indeks review pada Februari 2026 mendatang.
Perubahan sementara untuk pasar Indonesia mencakup tiga hal, pertama pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).
Kedua, pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
Ketiga pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Dalam pengumumannya, MSCI menyebut ketetapan ini dilakukan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability). Ketetapan ini juga sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk menghadirkan perbaikan transparansi.
"Perawatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko pergantian indeks dan risiko kelayakan investasi sambil memberikan waktu bagi otoritas pasar yang berwenang untuk menerapkan perbaikan transparansi yang signifikan," tulis pengumuman MSCI, dikutip Rabu (28/1/2026).
Jika tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, MSCI akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia. Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emergen MSCI untuk semua sekuritas Indonesia dan potensi reklasifikasi Indonesia dari status Pasar Emergen ke Pasar Frontier.
"MSCI akan terus memantau perkembangan di pasar Indonesia dan berkoordinasi dengan peserta pasar dan otoritas terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan IDX. MSCI akan mengkomunikasikan tindakan lebih lanjut sesuai kebutuhan," jelasnya.
Sebelumnya, MSCI pada Oktober 2025 meminta masukan para pelaku pasar terkait rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float.
Berdasarkan hasil konsultasi dengan para pelaku pasar, MSCI mengatakan investor menyoroti permasalahan fundamental terkait investability di pasar Indonesia yang dianggap kurang transparan, sehingga dikhawatirkan investor karena dianggap mengganggu proses pembentukan harga yang wajar.
"Investor menyoroti bahwa masalah fundamental terkait kelayakan investasi tetap ada akibat ketidakjelasan struktur kepemilikan saham yang berkelanjutan dan kekhawatiran tentang kemungkinan perilaku perdagangan terkoordinasi yang merusak pembentukan harga yang tepat," ungkap pengumuman tersebut.
"Untuk mengatasi beberapa kekhawatiran ini, informasi yang lebih rinci dan andal tentang struktur kepemilikan saham, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi, diperlukan untuk mendukung penilaian yang kokoh terhadap free float dan kelayakan investasi di seluruh sekuritas Indonesia," pungkas MSCI. (man)


