Washington, Harian Umum - Sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat (AS) mendesak Gedung Putih agar segera menghentikan perang dengan Iran.
Pasalnya, operasi militer yang dikobarkan Presiden Donald Trump itu hingga kini tidak mencapai satu pun tujuan yang ditetapkan, sehingga dianggap gagal total.
Kritik terhadap perang itu kembali mengemuka setelah AS kembali menyerang Iran.
Dilansir Press TV, Selasa (1/9/2026), Senator Virginia dari Partai Demokrat, Mark Warner, mengatakan bahwa perang yang diluncurkan Trump sejak 28 Februari 2026 itu justru membuat AS menjadi lebih lemah, bukan lebih kuat.
"Sudah enam bulan berlalu sejak dimulainya perang pilihan Trump. Apa hasilnya?" tanya Warner, yang juga menjabat Wakil Ketua Komite Intelijen Senat AS, di akun media sosial X.
Dia memaparkan dampak perang tersebut, seperti aksi saling serang antara AS dan Iran yang meningkat, lonjakan harga minyak, beban berlebih pada pasukan dan amunisi Amerika, pemerintah Teheran yang semakin ekstrem, dan Iran yang masih memiliki uranium yang diperkaya, rudal, serta drone.
"Perang yang dikobarkan Presiden ini telah menjadi kegagalan total, namun belum terlihat tanda-tanda akan berakhir," kritik Warner kepada Trump.
Kritikan senada disampaikan Senator Maryland, Chris Van Hollen, juga dari Partai Demokrat.
Menyoroti enam bulan perang berkecamuk, Van Hollen menyinggung soal kematian 18 personel militer AS, ratusan orang luka-luka dan ribuan warga sipil tewas. Dia juga membahas soal harga kebutuhan di AS yang ikut melonjak tajam imbas perang.
"Perang ini harus diakhiri, SEKARANG JUGA," tegas Van Hollen dalam pernyataan di X.
Beberapa anggota parlemen AS lainnya juga melontarkan kritikan serupa, mulai dari menyebut operasi militer terhadap Iran sebagai tindakan ilegal, memakan biaya besar, dan telah gagal secara strategis.
Senator senior Partai Demokrat, seperti Chuck Schumer dan Elizabeth Warren, kompak menyerukan agar perang melawan Iran segera diakhiri.
Schumer, yang merupakan pemimpin Demokrat di Senat, menyebut perang yang dikobarkan Trump itu "tidak menghasilkan apa-apa, selain terkurasnya cadangan logistik Amerika dan melemahnya posisi militer negara tersebut".
Dia menyebut perang itu sebagai "kegagalan total".
Di DPR AS, Pemimpin Minoritas Hakeem Jeffries dari Partai Demokrat menyebut operasi militer AS terhadap Iran sebagai "kegagalan besar".
Sedangkan mantan Ketua DPR AS, Nancy Pelosi, menyebut perang yang dikobarkan Trump di Iran sebagai "kesalahan fatal" dan menyindir nama Operation Epic Fury yang dibanggakan Trump sebagai "Operation Epic Failure".
Kritikan juga datang dari kalangan Partai Republik, dengan anggota DPR AS dari Kentucky, Thomas Massie, yang mengatakan bahwa AS telah berperang melawan Iran selama enam bulan, padahal Undang-Undang Kekuatan Perang tahun 1973 mewajibkan penarikan pasukan dalam waktu 90 hari jika tidak ada izin dari Kongres AS.
"Kita sudah melewati batas 180 hari. Akhiri perang ini," tegas Massie, yang sebelumnya menyebut perang tersebut sebagai "kesalahan terbesar dan paling merugikan" yang dilakukan Trump. (man)







