Jakarta, Harian Umum - DKI Jakarta dinilai sebagai provinsi yang paling konsisten dalam merawat kemajemukan.
Hal itu Aang Witarsa Rofik. Direktur Bina Ideologi, Karakter, dan Wawasan Kebangsaan pada Direktorat Jenderal (Ditjen) Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, dalam acara Silaturahmi Kebangsaan dan Halal Bi Halal 1446 H/2025 yang diselenggarakan Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) se-DKI Jakarta di Graha Ali Sadikin Plaza Blok G Kompleks Balaikota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (24/4/2025).
Acara ini dihadiri oleh sekitar 250 jajaran FPK se-Jakarta, dan juga dihadiri oleh perwakilan Badan Penghubung Daerah, ketua Paguyuban dan pimpinan Ormas.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berhalangan hadir dan diwakilkan oleh Asisten Pemerintahan yang juga Plt Kepala Bakesbangpol DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko.
"Kalau kita bicara tentang Indonesia, tentunya inilah sebagai jelmaan berbagai suku, agama, etnis, adat istiadat bangsa Indonesia yang ada di Jakarta. Saya yakin semuanya lengkap ada di Jakarta," kata Aang dalam sambutannya.
Ia menyebut ada 1.341 suku bangsa di Indonesia dengan 719 bahasa, 200 adat istiadat dan hukum adat, serta enam agama besar.
Diakui, mengelola kemajemukan ini tidak mudah dan tidak sesederhana kelihatannya. Karenanya, untuk mengelola kemajemukan itu, Kemendagri menginisiasi Permendagri Nomor 34 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pembauran Kebangsaan.
"Terima kasih karena Provinsi DKI Jakarta ini adalah provinsi yang paling konsisten merawat (kemajemukan), bahkan para senior, tokoh-tokoh sangat konsisten dalam bagaimana melakukan fungsi-fungsi pembauran dengan berbagai varian kegiatan. Tentunya ini kami sangat mengapresiasi dan sangat berterima kasih karena sampai detik ini Alhamdulillah dengan kemajemukannya masih dirawat dengan baik," katanya.
Sementara dalam sambutan Gubernur Pramono Anung yang dibacakan Asisten Pemerintahan yang juga Plt Kepala Bakesbangpol DKI Jakarta, Sigit Wijatmoko, antara lain mengucapkan terima kasih kepada FPK atas perannya menjaga kondusivitas di Jakarta.
"Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk Jakarta sebanyak 11 juta jiwa dan ini amat sangat dinamis, sementara luas wilayahnya kira-kira 660.000 km2 terbagi dalam 1 kabupaten administrasi dan 4 kota administrasi," kata Sigit.
Ia menambahkan, penduduk Jakarta amat sangat heterogen, baik dari segi etnis maupun akan budayanya, dan hal ini menjadi ikatan penting bagi warga Jakarta dalam menjaga persatuan dan kesatuan, sehingga pembangunan dan kemajuan DKI dapat berjalan dalam suasana yang rukun dan damai.
"Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas peran FPK yang bersama Pemprov DKI Jakarta bisa menjaga kondusivitas selama ini," katanya.
Ketua Panitia Silaturahmi Kebangsaan dan Halal Bi Halal 1446 H/2025 FPK yang juga wakil ketua FPK, Budi Siswanto, mengatakan, acara ini disiapkan dalam waktu yang singkat.
"Kami berterima kasih kepada semua pihak yang memberikan dukungan, dalam hal ini juga terkait dengan teman-teman panitia yang luar biasa dan dalam waktu singkat bisa berkolaborasi dengan teman-teman FPK di wilayah, yang atas dukungannya acara ini dapat terlaksana, karena kegiatan ini betul-betul dari kita, oleh kita dan untuk kita," katanya
Sementara Ketua FPK DKI Jakarta Syamsul Zakaria mengatakan, acara ini diselenggarakan selain agar para anggota FPK dapat bersilaturahmi dan saling memaafkan dalam bingkai Idul Fitri, juga sebagai bagian untuk sosialisasi agar antara berbagai suku dapat mempererat persatuan dan kesatuan kita untuk membawa Jakarta sebagai kota global, kota yang saling menghormati antara satu dengan lainnya.
"Semua yang hadir di sini adalah tokoh etnis dari seluruh Indonesia, dan di sini kita kita semua sepakat bagaimana kita mengawal Jakarta menjadi kota yang harmonis, di samping Kota Global," katanya.
Ia yakin acara ini akan memberikan manfaat yang positif, terutama dalam mempererat persatuan dan kesatuan untuk menjaga Jakarta agar tetap menjadi kota yang harmonis, dan mendukungnya menjadi Kota Global. (rhm)





