Jakarta, Harian Umum - Forum Negarawan (FN), Senin (11/9/2023), menyelenggarakan Dialog Forum Kebangsaan bertajuk "Merajut Persatuan dan Kesatuan Bangsa Melalui Berfikir, Bersuara dan Bertindak Jujur, Terbuka dan Adil Sebagai Negarawan" di Aula Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta Utara.
Acara ini juga diisi Pidato Pandangan Nasional Negarawan yang membahas tentang Permasalahan Negara dan Tanggung jawab Capres dan Cawapres yang akan berkompetisi di Pilpres 2024.
Ada delapan tokoh yang menyampaikan pidato perihal Permasalahan Negara dan Tanggung jawab Capres dan Cawapres yang akan berkompetisi di Pilpres 2024. Selain inisator FN Sri Eko Sriyanto Galgendu, yang lain di antaranya mantan Menkes Siti Fadilah Supari, Komjen Pol Dharma Pangrekun, epidemiolog Dr Tifauzia Tyassuma, Bambang Sulistomo (putra Pahlawan Bung Tomo) dan tokoh nasional Sri Edi Swasono.
Dalam paparan Siti Fadilah, Dharma dan Tifauzia diungkap bahwa apa yang terjadi di Indonesia saat ini merupakan sesuatu yang terjadi bukan secara tiba-tiba atau tanpa direncanakan, melainkan by design.
Dharma mengungkap bahwa masalah Indonesia bermula ketika negara kepulauan ini kembali menjadi anggota Persatuan Bangsa-bangsa (PBB), dan meratifikasi konvensi sistem kapitalis untuk diadopsi dan diterapkan dalam setiap regulasi yang diterbitkan di Indonesia.
Sistem kapitalis, jelas Dharma, merupakan sistem yang menjadikan manusia sebagai objek dominasi dan eksploitasi, dan puncaknya adalah ketika UUD 1955 diamandemen hingga empat kali sepanjang 2019-2022.
'Karena amandemen itu menjadi pintu masuk sistem kapitalis yang sama sekali tidak berpihak kepada rakyat," katanya
Hal ini dibenarkan oleh Siti Fadilah Supari. Dia mengatakan bahwa pangkal rusaknya Indonesia adalah lahirnya UUD 2022 yang merupakan hasil amandemen UUD 1945, sehingga kalau saat ini Indonesia memiliki presiden yang dikendalikan Oligarki, sehingga kebijakan-kebijakannya merugikan rakyat, maka itu akibat dari amandemen UUD 1945 itu.
"Karena itu, kita harus kembali kepada UUD 1945 yang asli," tegasnya.
Penjelasan Dr Tifauzia lebih mengerikan lagi, karena kata dia, keanggotaan Indonesia di PBB membuat Indonesia tidak dapat keluar dari regulasi-regulasi yang penyusunannya tidak lepas dari sistem kapitalisme.
Sebab, kata dia, ada "pihak yang menguasai dunia ini", dan pihak-pihak ini memiliki tujuan tertentu untuk dunia ini, karena antara tahun 2023 hingga 2030, sistem kapitalisme akan digantikan dengan ideologi baru yang disebut The New Capitalism atau Talentism, yaitu ideologi yang berbasis talenta.
"Jadi, nanti orang-orang yang tidak punya bakat harus tahu diri, karena dianggap tidak lagi punya hak berada di dunia ini," katanya.
Meski demikian Dr Tifauzia mengatakan bahwa Indonesia beruntung punya Pancasila yang sila keduanya berbunyi; "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab". Sebab, kata dia, para penguasa dunia itu tidak mengenal arti kemanusiaan, sehingga dengan Pancasila, Indonesia dapat memerangi ideologi Talentism yang jahat itu.
Berdasarkan paparan para narasumber dalam pidatonya, Inisiator FN, Sri Eko Sriyanto Galgendu, mengatakan bahwa Indonesia memiliki dasar yang kokoh untuk dapat mempertahankan persatuan dan kesatuan, serta keutuhan bangsa dan negara.
"Dasar itu harus ditempatkan kembali dan diisi, yakni Proklamasi yang memiliki tujuan dan cita-cita," katanya.
Sahabat keluarga Presiden Jokowi ini menilai, proklamasi adalah zirah, baju kehormatan, harga diri, serta martabat, yang harus ditinggikan, diletakkan di atas kepala,. Ia percaya hal itu dapat terwujud jika pada Pemilu 2024, Indonesia mendapatkan presiden dan pemimpin-pemimpin yang terbaik, yaitu pemimpin yang berhati singa alias pemimpin yang berkarakter kuat, berani membela rakyatnya, dan mampu melawan musuh-musuhnya.
Selain itu, kata dia seorang pemimpin juga harus memiliki cakrawala berpikir yang luas, memiliki cita-cita yang tinggi, dan mampu menggenggam serta mencengkeram kuat apa yang menjadi visi dan misi, serta tujuan bangsanya.
Eko meyakini, dengan pemimpin yang demikian, Indonesia akan mempu mengatasi semua persoalan yang tengah dihadapi, karena sesungguhnya bangsa Indonesia tidak kalah dengan bangsa China, Amerika, Eropa dan bangsa lainnya. (rhm)







