Teheran, Harian Umum - Juru Bicara Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, mengeritik laporan Axios pada Rabu (6/5/2026) yang mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) telah hampir mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Dikutip dari Al Mayadeen, Rabu (6/5/2026), laporan Axios itu didasarkan pada keterangan dua pejabat AS dan dua sumber tambahan yang diberi pengarahan tentang hal tersebut.
Dalam laporannya, Axios mengatakan bahwa Gedung Putih percaya mereka hampir mencapai kesepakatan dengan Iran dan menandatangani nota kesepahaman satu halaman yang bertujuan untuk mengakhiri perang dan menetapkan kerangka kerja untuk pembicaraan nuklir yang lebih rinci.
Nota kesepahaman yang diusulkan mencakup ketentuan di mana Iran akan berkomitmen untuk moratorium pengayaan nuklir, sementara Amerika Serikat akan setuju untuk mencabut sanksi dan melepaskan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan.
"Kedua belah pihak juga akan menghapus pembatasan yang memengaruhi transit melalui Selat Hormuz," kata Axios dikutip Al Mayadeen.
Namun, menanggapi laporan tersebut, Rezaei mengatakan bahwa apa yang dilaporkan Axios itu, baik soal moratorium pengayaan uranium dan pembukaan Selat Hormuz, tidak lebih dari "daftar keinginan AS", karena Washington takkan mampu mendapatkannya melalui perang, setelah mereka juga gagal mendapatkannya melalui meja perundingan.
"Iran tetap siaga tinggi, karena jika AS tidak mencabut blokade dan mundur, atau menawarkan konsesi yang diperlukan (akibat serangan AS dan Israel ke Iran sejak 28 Februari), Teheran akan menyambut dengan respon keras, yang akan membuat mereka menyesalinya," tegas Rezaei.
Sejauh ini, pihak Iran belum merespon laporan Axios itu, akan tetapi Tasnim News Agency melaporkan, sumber yang mengetahui informasi tersebut mengatakan bahwa Iran belum mengeluarkan tanggapan resmi atas proposal terbaru AS yang disebutkan Axios, meskipun laporan di media AS itu menunjukkan bahwa kesepakatan akhir sudah dekat.
Sumber tersebut mengatakan bahwa draf tersebut mencakup "ketentuan yang tidak dapat diterima," oleh Iran, dan menggambarkan narasi media AS sebagai upaya untuk membenarkan kemunduran politik Presiden Trump, karena kata dia, tindakan Trump menyerang Iran bersama Israel adalah salah dan seharusnya tidak pernah dilakukan.
"Sumber tersebut menambahkan bahwa Iran sebelumnya telah mengajukan proposal "14 poin yang masuk akal dan logis" melalui mediator Pakistan, tetapi AS menolak," imbuh Tasnim.
Kemudian, setelah Presiden Trump menangguhkan Proyek Kebebasan, sumber itu mengatakan bahwa Iran kembali mempelajari proposal AS tersebut.
"Hasilnya akan disampaikan kepada mediator (Pakistan) setelah keputusan akhir tercapai," pungkas sumber tersebut. (man)







