Jakarta, Harian Umum - Amerika Serikat (AS) melakukan berbagai cara untuk mengalahkan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz yang membuat negaranya mengalami krisis energi akibat berkurangnya pasokan setelah selat itu ditutup Iran.
Setelah gagal menggulingkan pemerintah Revolusi Iran yang saat ini berkuasa dengan cara melakukan agresi bersama Israel sejak 28 Februari, dan gagal menekan Iran melalui perundingan, AS kini menggunakan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk mencapai tujuannya.
Dikutip dari Al Mayadeen, Kamis (7/5/2026), Sekretaris Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi bahwa Washington telah menyerahkan resolusi yang telah direvisi kepada PBB untuk mendesak Iran agar membuka Selat Hormuz dengan menggunakan bahasa "meminta Iran menghentikan serangan terhadap pelayaran, aktivitas pertambangan, dan pengenaan bea" di selat strategis itu.
"Rubio mengatakan bahasa tersebut telah disederhanakan dalam upaya untuk memperluas dukungan (terhadap AS)," kata Al Mayadeen.
Iran menolak mentah-mentah
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Rabu (6/5/2026) waktu setempat, misi Iran untuk PBB mendesak negara-negara anggota lembaga itu agar menolak inisiatif AS tersebut.
"Iran menyerukan kepada negara-negara anggota (PBB) untuk bertindak berdasarkan logika, keadilan, dan prinsip, bukan tekanan, menolak rancangan tersebut, dan menahan diri dari mendukung atau mensponsorinya," kata misi tersebut dikutip Al Mayadeen.
Teheran berpendapat bahwa ketegangan di Selat Hormuz tidak dapat dipisahkan dari perang yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada tanggal 28 Februari yang dilakukan AS dan Israel.
Sebagai tanggapan atas agresi tanpa provokasi itu, tegas misi Iran untuk PBB, Iran bergerak untuk melawan dengan menurut Selat Hormuz untuk membatasi akses maritim, menggunakan kontrol pelayaran, mengenakan biaya bagi kapal yang ingin melintasi selat itu, dan melakukan tindakan-tindakan yang menargetkan kapal-kapal musuh sebagai bagian dari strategi untuk memberikan tekanan kepada musuh, dan mengembalikan keseimbangan kekuatan di selat strategis itu.
"Pengakhiran perang secara permanen, pencabutan blokade angkatan laut, dan pemulihan jalur pelayaran normal adalah satu-satunya solusi yang layak untuk masalah di selat tersebut," demikian bunyi pernyataan misi Iran untuk PBB.
Misi itu menuduh ada "motif politik" di balik tindakan Washington mengajukan resolusi itu ke PBB, meski Washington mendalihkan untuk "kebebasan navigasi".
"Washington berupaya "memajukan agenda politiknya dan melegitimasi tindakan yang melanggar hukum" (melalui PBB) daripada meredakan situasi," kecam misi itu. (man)







