Jakarta, Harian Umum - Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih tertahan di Teluk Persia, meski pada 1 April 2026 lalu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengatakan, kedua kapal itu telah mendapat persetujuan dari otoritas Iran untuk melalui Selat Hormuz.
VLCC Pertamina Pride mengangkut pasokan minyak mentah (light crude oil) untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, sedangkan Kapal Gamsunoro melayani kargo milik konsumen pihak ketiga (third party).
Kepada pers, Kamis (16/4/2026), pihak Pertamina mengklaim terus memonitor perkembangan situasi Selat Hormuz seiring dua kapal tanker milik perusahaan masih tertahan di Teluk Persia.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan, situasi di Selat Hormuz sangat dinamis mengikuti perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Perusahaan juga masih terus berkomunikasi dengan Kemlu yang berdiplomasi dengan pemerintah Iran agar kedua kapal bisa melewati jalur tersebut.
"Kami terus berkomunikasi secara intens dengan Kementerian Luar Negeri yang melaksanakan komunikasi dengan pihak pemerintah Iran," kata Baron di sela-sela acara Sustainability Champions di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Ia menambahkan, Pertamina melaui PIS juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk perusahaan asuransi. Komunikasi dengan kru kapal juga dijaga untuk memastikan keamanan awak maupun armada.
Koordinasi-koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan jika situasi sudah memungkinkan, kedua kapal diharapkan dapat segera melintasi Selat Hormuz.
"Sehingga apabila suasana atau situasi ini sudah memungkinkan, maka kapal tersebut kita harapkan bisa segera melewati Selat Hormuz," ucap Baron.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia masih terus bernegosiasi dengan pihak Iran agar dua kapal tanker milik Pertamina bisa melewati Selat Hormuz.
Menurutnya, koordinasi intensif masih terus dibangun pemerintah Indonesia dengan Iran untuk mengeluarkan dua kapal RI dari kawasan konflik tersebut.
"Kita masih komunikasi terus. Memang tidak mudah untuk kita bisa melakukan bagaimana caranya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz," ujar Bahlil di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/32026).
Seperti diketahui, Iran menutup Selat Hornuz pada hari pertama ketika Negeri Para Mullah itu diserang AS dan Israel dengan tujuan untuk menggulingkan pemerintahannya, dan diganti dengan pemerintahan proxy yang bisa mereka atur dan kendalikan.
Meski Presiden AS Donald Trump berkali-kali mengancam jika Iran tidak membuka Selat yang menjadi jalur kontribusi 20 % kebutuhan minyak global tersebut, Iran tetap kukuh dan hanya mengizinkan negara yang dianggap sebagai sahabat Iran yang bisa melintasi selat tersebut.
Negara-negara dimaksud adalah Rusia, China, Pakistan, Malaysia, Thailand, Irak, Turki, India, Bangladesh, Spanyol, Sri Lanka, dan Korea Selatan. Indonesia tidak masuk daftar.
Situasi makin sulit, karena kegagalan negosiasi gencatan senjata di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu (11/4/2026), membuat AS memblokade arus maritim Iran, yang juga berarti memblokade Selat Hormuz. (man)


