Teheran, Harian Umum - Panglima Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, Rabu (15/4/2026), mendatangi Teheran untuk menyampaikan pesan dari Amerika Serikat (AS) bahwa negara adidaya itu ingin kembali melakukan pembicaraan gencatan senjata.
Sebelumnya, pada perundingan di Islamabad, Sabtu (11/4/2026), AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan karena Iran menilai AS mengajukan persyaratan yang berlebihan.
"Delegasi Munir, yang mencakup perwakilan dari Kementerian Luar Negeri, lembaga keamanan, dan pakar teknis, mendarat di ibu kota Iran pada hari Rabu. Tujuan kunjungan ini adalah untuk menyampaikan pesan AS kepada kepemimpinan Iran dan merencanakan putaran negosiasi selanjutnya," kata Tasnim News Agency, Rabu (15/4/2026).
Sumber kantor berita semi-resmi Iran itu pada Kamis (16/4/2026), melaporkan, atas keinginan AS itu Iran akan terlebih dulu mengkaji perundingan yang gagal di Islamabad pada 11 April lalu.
“Setelah pertemuan delegasi Pakistan yang dipimpin oleh Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dengan para pejabat Iran hari ini, tim Iran akan melakukan peninjauan yang diperlukan dan kemudian keputusan akan dibuat tentang putaran negosiasi selanjutnya antara Iran dan Amerika Serikat,” kata Tasnim mengutip seorang sumber.
Sumber tersebut mencatat bahwa gencatan senjata di Lebanon akan menjadi “sinyal positif” bagi keputusan Iran untuk kembali ke meja perundingan.
“Amerika Serikat harus mematuhi kerangka kerja logis negosiasi dan menghindari penghambatan proses negosiasi dengan mengajukan tuntutan yang berlebihan atau melanggar janji yang dibuat sebelum gencatan senjata,” imbuh sumber itu.
Seperti diketahui, Iran yang merasa di atas angin dalam perang kontra AS dan Israel, mengajukan 10 poin yang harus dipenuhi AS jika ingin melakukan gencatan senjata, antara lain pengakuan penuh bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran, dan tidak ada pembatasan bagi Iran untuk melakukan pengayaan uranium.
Awalnya, melalui akun Truth Social-nya, Presiden AS Donald Trump menyetujui ke-10 poin itu, akan tetapi melalui akun yang sama dia membantah dengan mengatakan bahwa persetujuan tersebut adalah hoaks.
Saat perundingan di Islamabad yang berlangsung selama 21 jam, sikap AS juga berubah dan bahkan dinilai Iran mengajukan permintaan yang berlebihan, karena antara lain AS minta Selat Hormuz dibuka penuh tanpa syarat, dan Iran harus menyerahkan hasil pengayaan uranium ya, plus menghentikan pengayaan itu. Iran menolak mentah-mentah.
Sebelumnya, Iran menggagalkan operasi terselubung AS di Isfahan yang berkedok operasi penyelamatan pilot AS yang pesawatnya ditembak jatuh Iran. Operasi itu bertujuan mengambil uranium yang telah diperkaya Iran dari sebuah fasilitas nuklir Iran di dekat Isfahan.
Iran dapat menggagalkan operasi itu dengan menembak jatuh sejumlah pesawat yang dikerahkan AS untuk operasi itu. (man)





