Jakarta, Harian Umum - Mata Internasional agaknya terus tertuju ke Indonesia setelah Presiden Prabowo Subianto bergabung dengan Board of Peace (BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang diyakini untuk kepentingan Israel.
Apalagi sebuah dokumen rahasia yang bocor ke Sunday Guardian beberapa hari lalu, mengungkap kalau Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump telah sepakat untuk memberi akses menyeluruh bagi pesawat militer AS melewati udara Indonesia.
Maka, ketika Prabowo berkunjung ke Moskow dan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin, mata internasional pun tajam menganalisa, salah satunya netizen pemilik akun X New Direction Africa dengan username @Its_ereko.
Pemilik akun ini menilai Indonesia sedang bermain di dua sisi alias dua kali, dan akun ini mengingatkan bahwa "permainan" yang dipilih Indonesia itu berbahaya.
Berikut kicauan @Its_ereko terkait hal itu:
"INDONESIA BERMAIN DI KEDUA SISI
Presiden Prabowo berada di Moskow bertemu dengan Putin, berterima kasih kepada Rusia atas keanggotaan BRICS, dan membahas kesepakatan energi.
Pada saat yang sama, Menteri Pertahanan Sjafrie berada di Washington menandatangani "Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama" dengan AS dan menegosiasikan akses lintas udara menyeluruh untuk pesawat militer Amerika.
Jadi, mana yang benar? Netralitas atau aliansi? BRICS dengan Rusia atau pakta keamanan dengan AS? Anda tidak dapat melayani dua tuan.
Rakyat Indonesia berhak tahu: apakah ini keseimbangan strategis atau pengkhianatan strategis? Satu negara tidak dapat berteman dengan kedua kekaisaran selamanya. Tagihannya selalu akan datang.
Propraye tersenyum di Moskow. Sjafrie berjabat tangan di Washington. Dan kedaulatan Indonesia diperdagangkan di kedua ibu kota.
Ini bukan diplomasi. Ini bahaya. Pilih jalur Anda sebelum dunia memilihnya untuk Anda".
Meski demikian, pada cuitannya yang lain, @Its_ereko juga memuji langkah Indonesia. Begini katanya:
"BERITA TERKINI: Indonesia baru saja memainkan permainan ini dengan sempurna. Menandatangani kesepakatan keamanan dengan AS, kemudian terbang ke Moskow dan mengamankan pasokan minyak, gas, dan LPG dari Rusia.
Itu bukan memilih pihak. Itu memilih Indonesia.
Energi dari satu negara adidaya, keamanan dari negara adidaya lainnya. Sementara Eropa membakar diri untuk menghukum Rusia, Jakarta diam-diam mengamankan kepentingannya sendiri dari keduanya.
Negara-negara Selatan lainnya sedang mengamati dan mencatat'.
(man)







