Jakarta, Harian Umum- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali erupsi, Kamis (3/1/2019), serta melontarkan asap dan abu vulkanik setinggi 300-2.000 meter ke langit.
"Selama pukul 12.00-18.00 WIB terjadi 16 kali letusan, 5 kali hembusan. Asap kawah bertekanan sedang dengan tinggi 300-2.000 meter dari puncak kawah," jelas Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho seperti dikutip dari akun Twitter pribadinya, @Sutopo_PN, Kamis (3/1/2019).
Letusan gunung yang pada 22 Desember 2018 lalu memicu tsunami di pesisir Serang, Pandeglang dan Lampung Selatan itu divideokan kapal patroli TNI AL pada pukul 16.30 WIB, saat melintas tak jauh dari gunung itu.
Sutopo merinci, saat meletus pada pukul 10.17 WIB, gunung itu melontarkan asap dan abu vulkanik setinggi sekitar 2.000 meter; pada pukul 12.03 WIB melontarkan asap dan abu vulkanik setinggi 1.600 meter; dan pada pukul 16.30 WIB melintarkan asap dan abu vulkanik tinggi sekitar 1.500 meter.
"Status (gunung masih) Siaga (level 3). Di dalam radius 5 km tidak boleh ada aktivitas masyarakat," tegas Sutopo.
Gunung Anak Krakatau meletus sejak Juni 2018, namun pakar gunung berapi Surono mengatakan, kemungkinan gunung itu kembali memicu tsunami teramat kecil karena letusan-letusan yang terjadi sejak Juni telah membuat tubuh gunung itu menciut.
Seperti pernah dikabarkan Sutopo, Gunung Anak Krakatau semula memiliki tinggi 338 meter dari permukaan laut (mdpl), dan saat ini hanya tersisa 110 mdpl. (rhm)







