Bandung, Harian Umum- Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono memastikan penyebabtsunami di Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) malam, dipicu longsoran erupsi Gunung Anak Krakatau.
"Pada 21 Desember gunung itu meletus, mungkin buat retakan atau guncangan akhirnya longsor. Itu yang menimbulkan tsunami," kata dia di Bandung, Jawa Barat, Senin (24/12/2018).
Menurut dia, ada citra satelit yang menangkap longsoran itu. Dari citra tersebut diketahui ada 64 hektare lereng Gunung Anak Krakatau yang hilang.
"Itu tentunya membuat guncangan," imbuhnya.
Sensor gempa BMKG di Banten dan Lampung mencatat adanya getaran, namun kata Rahmat, guncangan itu tidak diartikan sebagai gempa melainkan longsoran. Setelah dikonversi, besaran guncangan itu setara dengan gempa bermagnitude 3,4 SR.
Berdasarkan data BMKG Pusat, sumber guncangan atau episenter itu berada di kaki lereng Gunung Anak Krakatau.
"Apakah langsung ambles hilang (64 hektare), itu perlu riset, namun kami memastikan lereng itu tidak mungkin hilang sedikit demi sedikit," tegasnya.
Seperti diketahui, sebelumnya BMKG menduga tsunami yang menewaskan lebih dari 200 orang itu diakibatkan oleh longsoran di bawah laut akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, atau akibat longsorannya.
Kedatangan gelombang setinggi 2-3 meter it mengejutkan warga dan wisatawan di sepanjang pesisir Kabupaten Pandeglang dan Serang, Banten, serta Lampung Selatan, karena tanpa didahului gempa dan peringatan dini tsunami dari BMKG.
Bahkan saat gelombang mematikan itu datang, BMKG menyatakan bahwa gelombang itu merupakan air laut yang pasang akibat bulan purnama.
Hingga Senin (24/12/2018) pukul 07:00 WIB, BNPB mengatakan, korban tewas tercatat 281 orang tewas, korban luka 1.016 orang dan yang hilang 57 orang.?
Bencana itu juga membuat 11.687 orang mengungsi. (rhm)







