Jakarta, Harian Umum - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Rabu (3/6/2026), melakukan serangan balasan terhadap markas besar Armada Kelima AS di Bahrain dan pangkalan udara Amerika di Asia Barat.
"Serangan balasan itu dilakukan, menyusul serangan Washington terhadap aset-aset Iran," kata Fars News.
Dalam pernyataan yang dirilis hari ini, IRGC tegas mengatakan bahwa Iran tidak akan menerima kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang yang dikobarkan AS dan Israel terhadap negaranya, kecuali ada kepastian bahwa hak-hak rakyat Iran dijamin.
Para pejabat Iran juga menekankan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak memiliki pilihan yang baik terkait Teheran, dan harus memilih antara jalan yang "buruk" atau "lebih buruk".
"Ini sekaligus peringatan bahwa serangan baru apa pun terhadap Teheran akan memicu respons mengerikan yang meluas ke seluruh Asia Barat dan di luar kawasan itu," imbuh Fars.
Dalam pernyataan itu dijelaskan bahwa serangan balasan Iran dipicu oleh serangan AS terhadap kapal tanker minyak Iran di dekat Selat Hormuz pada tengah malam kemarin.
"Larut malam kemarin, militer AS yang agresif menyerang sebuah kapal tanker minyak Iran dengan proyektil udara di sekitar Selat Hormuz, menyebabkan kerusakan pada ruang mesin kapal," katanya.
Serangan itu dibalas IRGC dengan merudal kapal tanker AS-Israel bernama Panaya.
"Sebagai tanggapan atas agresi dan pelanggaran peraturan yang mengatur Selat Hormuz ini, sebuah kapal musuh Amerika-Zionis bernama Panaya menjadi sasaran rudal yang diluncurkan oleh Angkatan Laut IRGC," kata IRGC.
Pernyataan tersebut kemudian menjelaskan serangan kedua.
"Dalam tindakan agresi yang diperbarui, musuh Amerika menargetkan menara komunikasi IRGC di bagian selatan Pulau Qeshm dengan proyektil udara," katanya.
IRGC mengatakan serangan itu diikuti oleh operasi pembalasan yang dilakukan oleh Angkatan Udaranya.
"Sebagai tanggapan atas serangan ini, pangkalan udara dan helikopter mereka yang ditempatkan di salah satu negara di kawasan itu, serta markas besar Armada Kelima AS, menjadi sasaran serangan rudal dan drone oleh Angkatan Udara IRGC," tambah pernyataan itu.
IRGC mengumumkan bahwa operasi pembalasan tersebut sesuai dengan peringatan sebelumnya.
"Kami sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap tindakan agresi akan dibalas dengan tanggapan yang berbeda dan lebih berat, dan kami bertindak sesuai dengan itu. Tanggapan ini harus menjadi pelajaran," katanya.
Respon AS
Dilaporkan Al Arabiya, Central Command (CENTCOM) atau Pusat Komando AS membantah klaim IRGC yang telah menyerang Markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain dan pangkalan udara terpisah di wilayah Asia Barat (Timur Tengah).
“Iran meluncurkan beberapa rudal balistik ke arah negara-negara tetangga di kawasan itu, tapi semuanya gagal mengenai target yang dimaksud,” kata CENTCOM dalam sebuah pernyataan, dikutip Al Arabiya, Rabu (3/6/2026).
“Dua rudal Iran yang ditembakkan ke Kuwait gagal mencapai sasaran atau hancur di tengah jalan, dan tiga rudal yang diluncurkan ke Bahrain segera dicegat oleh pasukan pertahanan udara AS dan Bahrain," jelas CENTCOM.
Militer Kuwait mengatakan pertahanan udaranya mencegat serangan rudal dan drone "musuh".
CENTCOM juga mengatakan bahwa "gelombang tambahan drone Iran yang mencoba menyerang pasukan AS di Kuwait gagal mengenai target yang dimaksud," dengan beberapa drone ditembak jatuh.
Militer AS bahkan mengklaim menembak jatuh tiga drone serang yang diluncurkan oleh Iran ke arah pelaut sipil yang secara sah melintasi perairan regional.
Dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita resmi IRNA, IRGC mengklaim telah menyerang instalasi militer AS sebagai tanggapan atas serangan di Pulau Qeshm.
"SALAH," kata CENTCOM dalam sebuah unggahan di X. "Semua serangan Iran terhadap pasukan Amerika gagal". (man)







