Jakarta, Harian Umum - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6/2026), dan terjerumus ke level terendah sepanjang sejarah.
Rupiah dibuka pada posisi Rp17.805/dolar AS setelah ditutup melemah 0,19% atau 34 poin pada Selasa (2/6/2026), dan jatuh ke posisi Rp17.839/dolar AS.
Menurut Investing, sepanjang pagi hingga memasuki sesi II perdagangan, rupiah bergerak di kisaran 17.822 - 17.959/dolar AS.
Dan pada pukul 14:24 WIB rupiah terpantau di posisi Rp17.957/dolar AS, karena melemah tajam 151,6 poin atau 0,85%.
Data Bloomberg menunjukkan hal yang tak berada, rupiah berada di posisi Rp17.957/dolar AS pada pukul 14:19 WIB.
Dikutip dari Liputan6, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai peluang rupiah menembus level Rp18.000/dolar AS masih terbuka, terutama karena faktor eksternal yang belum mereda.
Ia menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama masih berasal dari dinamika geopolitik global yang belum menemukan kepastian.
“Kemungkinan ke sana masih terbuka karena isu perdamaian antara AS dan Iran masih tarik ulur dan belum pasti, sehingga sentimen pasar masih bisa terus berubah dan memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah di pasar global,” katanya.
Lebih lanjut, Ariston menyoroti bahwa pelemahan rupiah dapat memberikan dampak langsung terhadap kondisi ekonomi masyarakat, terutama dari sisi harga barang konsumsi yang cenderung meningkat akibat tingginya kandungan impor, ditambah tekanan dari harga minyak mentah dunia.
“Dampak nyatanya jelas ke harga barang-barang konsumsi meningkat karena banyak kandungan impor di barang konsumsi kita. Belum lagi dampak dari kenaikan harga minyak mentah yang ikut menambah tekanan biaya produksi. Kenaikan harga ini pada akhirnya akan menurunkan daya beli masyarakat secara keseluruhan,” jelasnya.
Di sisi lain, ia juga menilai pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor eksportir karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional, serta berpotensi meningkatkan penerimaan negara dari pajak ekspor dan memperkuat pasokan dolar domestik.
Selain itu, pelaku pasar masih terus mencermati arah kebijakan global yang dinilai akan sangat menentukan pergerakan rupiah ke depan. (man)







