Teheran, Harian Umum - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa tidak ada "kemajuan signifikan" dalam negosiasi dengan AS selama beberapa hari terakhir.
Pernyataannya itu sekaligus menepis klaim Presiden AS Donald Trump bahwa perundingan berjalan dengan "sangat baik".
"Kami tidak pernah menginginkan perang, kami menginginkan perdamaian, tetapi perdamaian yang terhormat," kata diplomat senior itu dalam sebuah wawancara dengan jaringan Al-Mayadeen dikutip dari Fars News , Kamis (4/6/2026).
Ia menegaskan bahwa Iran siap untuk melanjutkan perang, baik dalam hal kemampuan militer, kohesi nasional, atau tekad untuk menghadapi agresi.
"Posisi militer kami bahkan lebih kuat daripada sebelum perang, karena kami mampu mempertahankan produksi militer sepanjang serangan, dan mereka tidak mampu menghentikannya," lanjut dia.
Perang Iran vs Amerika-Israel pecah setelah AS dan Israel menyerang Iran pada tanggal 28 Februari untuk menggulingkan pemerintahan Revolusi Iran dan menggantinya dengan pemerintahan dengan pemerintahan boneka yang dipimpin Reza Pahlevi, akan tetapi hingga 7 April, upaya itu gagal. Bahkan alih-alih menaklukkan Iran, Israel dan Amerika babak belur dihajar rudal balistik dan drone kamikaze Iran.
AS kemudian mengusulkan gencatan senjata melalui Pakistan sebagai mediator, dan mengajak berunding untuk mengakhiri perang, akan tetapi negosiasi di Islamabad pada 11-12 April, gagal karena Iran menilai AS mengajukan permintaan yang berlebihan. Kegagalan negosiasi itu membuat Trump memerintahkan pasukannya untuk memblokade perairan Iran, dan hingga sekarang blokade masih berlangsung.
Namun, di tengah blokade, Trump Lagi-lagi mengajak berunding, akan tetapi buntu karena permintaan Iran agar blokade dicabut Trump, ditolak. Trump hanya mau mencabut blokde jika kesepakatan damai telah dicapai.
Selain itu, Trump juga minta Iran menghancurkan fasilitas nuklirnya, menyerahkan uranium yang telah diperkaya, dan melepas kontrol atas Selat Hormuz dan membukanya untuk lalu lintas internasional. Iran menolak mentah-mentah, terlebih karena Trump juga menolak melepaskan aset Iran yang dibekukan yang nilainya mencapai $24 miliar.
Terakhir, perundingan dilakukan di Doha, Qatar, akan tetapi saat perundingan berlangsung, AS menyerang kapal-kapal Iran dan juga Bandar.Abbas di selatan Iran.
Kemarahan Iran pun meledak dan melepaskan serangan balasan.
Araqchi menegaskan, bahwa Iran punya kapasitas untuk melanjutkan perang dengan AS dan Israel selama diperlukan.
Namun, ia memberikan catatan penting untuk Trump.
"Jika akal sehat menang, perang tidak akan berlanjut. Lagipula Washington telah gagal dengan tujuan awalnya, yakni Iran menyerah tanpa syarat, karena hal itu tidak akan pernah terjadi," katanya.
Araqchi menegaskan bahwa saat ini tidak ada proses negosiasi formal yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat, meski kedua pihak tetap melanjutkan komunikasi, dan komunikasi itu belum menghasilkan "kemajuan signifikan".
"Kedua pihak saat ini sedang meninjau kerangka kerja yang ada, dan jika kondisinya kondusif, negosiasi akan dilanjutkan berdasarkan kepentingan nasional Iran, hak-hak rakyat Iran, dan tujuan untuk mengakhiri perang di Iran dan Lebanon," tegasnya.
Araqchi juga mengungkap satu hal penting yang dibawa Iran selama perundingan, yakni bahwa AS harus menghentikan agresi di semua lini, termasuk di Lebanon, dan itu syarat mutlak yang harus dipenuhi AS.
"Kami tidak menganggap nasib perang antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel terpisah dari nasib perang di Lebanon. Perang itu akan berakhir di kedua tempat, atau berlanjut di kedua tempat," pungkasnya. (man)







