Jakarta, Harian Umum- Pakar gunung api Surono menyebut potensi tsunami di selat Sunda akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau terbilang minim karena ukuran gunung itu sudah mengecil dibanding sebelum memicu tsunami di pesisir Pandeglang dan Serang, Banten, serta Lampung Selatan pada 22 Desember 2018 lalu.
Pakar yang akrab disapa Mbah Rono itu menjelaskan, aktivitas vulkanik berupa erupsi yang sejak Juni 2018 diperlihatkan Anak Krakatau, menunjukkan kalau gunung di Selat Sunda itu tengah membangun tubuhnya menjadi besar, dan ia meminta masyarakat tidak khawatir kalau gunung itu akan kembali memicu tsunami.
"Dia seperti anak muda supaya tinggi dan semok. Kalau tidak meletus, bagaimana tumbuh dia? Letusan setinggi apapun Anak Krakatau juga kecil menimbulkan tsunami," katanya dalam diskusi 'Mitigasi Bencana Masih Jadi PR' di Jakarta, Kamis (3/1/2019).
Ia menyesalkan pihak-pihak yang memperkirakan Gunung Anak Krakatau akan kembali menimbulkan tsunami, dan menganggapnya sebagai tindakan mengkriminalisasi anak Krakatau.
"Kecil sekali dan bahkan dapat dikesampingkan untuk mendakwa anak Krakatau meletus bisa menimbulkan tsunami," tegasnya.
Meski demikian Mbah Rono mengingatkan BMKG agar alat pendeteksi longsoran di Anak Krakatau terus dipastikan berfungsi baik. Apalagi karena sejak setelah tsunami menerjang pesisir Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan, ia sudah dapat menebak apa penyebabnya.
"Banyak yang mengatakan tsunami itu diakibatkan letusan. Saya bilang bukan, ini longsoran. Jangan pernah alat (pemantau) di Anak Krakatau mati, karena wilayah di sekitarnya vital dan strategis. (Kita) tidak boleh lengah terhadap aktivitas Anak Krakatau," ujarnya.
Ia bahkan mengaku kalau potensi tsunami yang dipicu longsoran Anak Krakatau sudah pernah diteliti pada 2012, dan ia memastikan bahwa letusan Gunung Anak Krakatau saat ini masih masuk kategori normal.
Seperti diketahui, tsunami yang menghantam Serang, Pandeglang dan Lampung Selatan pada 22 Desember 2018 pukul 21:27 WIB sangat mengejutkan karena tidak didahului adanya peringatan dini tsunami dari BMKG. Bahkan saat kejadian, baik lembaga itu maupun BNPB menyebut kalau gelombang yang datang di wilayah itu merupakan gelombang pasang akibat bulan purnama, namun kemudian akhirnya diralat karena fakta menunjukkan bahwa gelombang itu memang tsunami.
Para korban selamat mengatakan, saat tsunami menerjang, ketinggian air mencapai 2 meter lebih.
Musibah ini menewaskan lebih dar 400 orang dan mencederai lebih dari 1.000 orang. (man)







