Jakarta, Harian Umum- Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengatakan, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih cukup signifikan, sehingga masih berpotensi menimbulkan longsor yang memicu tsunami seperti terjadi pada Sabtu (22/12/2018) pukul 21:27 WIB lalu.
Karena hal itu, BMKG berencana mengepung gunung di Selat Sunda itu dengan seismograf yang ditempatkan di enam titik di sekililingnya agar setiap aktivitas gunung itu dapat dicatat.
"Pada saat kejadian 22 Desember 2018, sensor-sensor ini juga merekam, tetapi merekamnya bukan gempa bumi dan sangat kecil memang, (sehingga) tidak ada manusia yang merasakan getaran itu," katanya saat konferensi pers di gedung BMKG, Jakarta, Selasa (25/12/2018) malam.
Menurut dia, dengan memanfaatkan sensor-sensor seismograf tersebut pihaknya diharapkan dapat memberikan peringatkan kepada masyarakat di sekitar Selat Sunda, karena alat yang dimiliki BMKG itu dapat mencatat setiap aktivitas di Gunung Anak Krakatau, dan jika ada potensi tsunami alat itu akan mengeluarkan alarm.
"Kalau dua, atau minimal tiga Seismograf kita tempatkan di sana, bisa mengetahui di mana posisi, sumber getaran itu tadi. Apalagi kalau enam kita tempatkan di sana," tegas dia.
Rahmat menilai, saat ini cara itu kemungkinan merupakan yang paling efektif, karena potensi longsor Gunung Anak Krakatau masih mungkin terjadi, sehingga dengan menempatkan seismograf, BMKG dapat memonitor setiap longsor yang terjadi.
Ia memperkirakan, jika pada 22 Desember kemarin getaran yang terasa setara dengan magnitudo 3,4, maka yang akan terjadi lagi kemungkinan bisa setara magnitudo 3,4 dan 3,5 SR, bahkan lebih.
Diakui, selama ini peringatan tsunami yang diberikan BMKG adalah yang magnitudonya cukup signifikan, di atas 7, namun karena guncangan akibat longsor di Gunung Anak Krakatau tidak begitu besar, maka dengan megnitudo 3,4 sampai 3,5 kami saja BMKG akan memberikan peringatan tsunami untuk sekitar wilayah di Selat Sunda.
"Kalau setelah memberikan peringatan sekitar satu jam tidak ada air laut masuk atau tidak ada tsunami, maka BMKG akan segera menyatakan peringatan dinyatakan berakhir," pungkas dia.
Seperti diketahui, BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dikritik karena saat tsunami menerjang Kabupaten Pandeglang dan Serang di Provinsi Banten, dan Kabupaten Lampung Selatan, kedua lembaga ini tidak mengeluarkan peringatan dini tsunami. Bahkan saat bencana itu datang, mereka sempat mengatakan kalau itu bukan tsunami, melainkan gelombang pasang akibat pengaruh bulan purnama.
Hingga Selasa (25/12/2018) petang, menurut BNPB, jumlah korban tewas mencapai 429 orang, sementara yang luka 1.485 orang, yang hilang 154 orang dan yang mengungsi 16.082 orang.
Gelombang tsunami setinggi lebih dari 2 meter itu juga merusak dan menghancurkan 882 unit rumah, 73 unit penginapan, 60 unit warung kuliner, dan 434 unit perahu dan kapal.
Selain itu, tsunami juga merusak 24 unit mobil, 41 unit sepeda motor, 1 dermaga, dan 1 shelter. (rhm)







