Depok, Harian Umum - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se-Universitas Indonesia (UI) mengeritik pernyataan Menteri Keuangan RI Purbawa Yudhi Sadewa saat menyamaikan orasi ilmiah di acara wisuda UI, Sabtu (14/2/2026).
Saat itu, Purbaya bercanda dengan mengatakan bahwa ia akan memberikan sumbangan kepada UI dalam bentuk beasiswa melalui program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Namun, Purbaya juga meminta agar BEM UI tidak lagi protes dan berdemo
BEM UI menilai candaan itu merupakan bentuk narasi yang tidak tepat disampaikan di mimbar akademik.
“Ia berkelakar agar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) tidak protes lagi dan lebih baik meminta untuk pertahankan Menteri Keuangan jika kembali turun ke jalan,” kata Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan saat membacakan pernyataan sikap di Tugu Makara UI, Depok, Jawa Barat, kRabu (18/2/2026).
Selain itu, sambung dia, dalam kesempatan tersebut Purbawa juga menyampaikan optimismenya terhadap target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam rangka mengejar visi Indonesia Emas 2045.
BEM UI menilai, apa yang dikatakan Purbaya itu tak lebih dari gimik politik, dan menurut mereka, podium akademik seharusnya menjadi ruang dialektika yang jujur, bukan panggung gimik politik yang berpotensi melemahkan semangat kritis mahasiswa.
“Kami, mahasiswa UI, menolak untuk diam pada pembungkaman dan akan selalu bersuara lantang terhadap penindasan, karena kami percaya bahwasanya mahasiswa merupakan pemuda-pemudi dengan keyakinan akan kebenaran, pemikiran yang tercerahkan, dan keteguhan hati dalam menghadapi kezaliman,” tegas Yatalathof.
BEM Se-UI yang melibatkan sekitar 10 fakultas juga mengecam segala bentuk represivitas terhadap mahasiswa, termasuk penggunaan narasi sumbangan yang dinilai dapat meredam kritik atas kebijakan pemerintah.
Menurut BEM, kritik mahasiswa terhadap pemerintah merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin dalam Pasal 28E Ayat (3) UUD 1945 dan tidak dapat diganggu gugat, dan pernyataan sikap ini menjadi peringatan bahwa UI tidak dapat dipengaruhi oleh janji-janji kekuasaan.
“Selama keadilan masih sebatas retorika dan kesejahteraan hanya milik segelintir elite, maka selama itu pula perlawanan kami akan berlipat ganda,” tegasnya.
Yatalathof memastikan bahwa BEM UI akan tetapi kritis dan menolak bantuan yang disodorkan Purbaya.
“Kami akan tetap awas, tetap kritis, dan akan terus menjadi barisan terdepan dalam menjaga kebenaran substantif, karena pada akhirnya sejarah tidak akan mencatat mereka yang silau apalagi tunduk pada bantuan, melainkan mereka yang senantiasa objektif mengkritisi segala kebijakan untuk kebaikan bangsa,” pungkasnya. (man)


