Teheran, Harian Umum - Direktur Pelaksana Bank Dunia, Paschal Donohoe, mengingatkan tentang konsekuensi perang AS-Israel Vs Iran yang berlangsung sejak 28 Februari 2026, sejak koalisi AS-Israel menyerang seluruh provinsi Iran.
"Donohoe mengingatkan tentang meningkatnya risiko inflasi, lapangan kerja, dan ketahanan pangan, khususnya di wilayah-wilayah rentan di Asia dan Afrika," kata Tasnim News Agency, Kamis (2/4/2026).
Pernyataan Donohoe disampaikan saat Bank Dunia mengumumkan kemitraan baru dengan Dana Moneter Internasional dan Badan Energi Internasional yang bertujuan untuk menyelaraskan langkah-langkah keuangan dan kebijakan untuk mengurangi krisis.
Ia mengakui, lembaganya "sangat prihatin" atas dampak berantai perang di Iran, sehingga bekerja sama dengan negara-negara anggota untuk menilai kebutuhan mendesak dan mengoordinasikan respons.
Donohoe menyoroti bahwa negara-negara di Asia dan Afrika sangat rentan terhadap guncangan ekonomi yang dipicu oleh perang, termasuk melonjaknya harga energi, terganggunya rantai pasokan, dan menurunnya output ekonomi.
"Saat ini, kami sedang berkonsultasi dengan banyak pemerintah dan negara terkait kebutuhan mereka, dan saya memperkirakan dalam beberapa minggu ke depan hal itu akan menjadi jauh lebih jelas," katanya.
Saat ini yang paling dirasakan penduduk dunia akibat perang AS-Israel adalah kenaikan harga minyak dunia yang telah di atas $ 100 per barel, akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Tak hanya itu, penutupan selat yang menjadi jalur distribusi 20 persen kebutuhan minyak dan gas alam cair dunia, membuat banyak negara mengalami krisis energi karena kapal-kapal tanker minyaknya tak dapat melewati selat itu.
Sejauh ini, hanya kapal tanker negara yang dianggap sebagai sahabat Iran yang bisa melewati Selat
Hormuz, seperti China, Rusia, India, Pakistan, Malaysia dan Thailand, sementara kapal tanker Indonesia sempat tertahan di Teluk Persia, meski kemudian mendapat izin untuk melewati Selat Hormuz. (man)







