Jakarta, Harian Umum - Mengejutkan! Meski banjir bandang dan longsor yang menerjang tiga provinsi di Sumatera, salah satunya Aceh, terjadi pada November 2025, hingga hari ini, Selasa (3/2/2026), tiga kabupaten/kota di Aceh masih berstatus tanggap darurat.
Artinya, di ketiga kabupaten/kota itu kondisi masih sangat parah, tak beda jauh dengan saat banjir bandang yang membawa serta ribuan batang kayu gelondongan bersama lumpur, menghantam permukiman di sana.
Ketiga kabupaten/kota yang masih berstatus tanggap darurat tersebut adalah Aceh Tamiang, Aceh Tengah dan Pidie Jaya.
Fakta ini diungkap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto saat rapat kerja dengan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Suharyanto mengatakan, secara umum wilayah terdampak bencana Sumatera sudah memasuki fase transisi darurat menuju pemulihan.
"Jadi, tidak ada lagi di tiga provinsi semuanya tiga-tiganya sudah mencabut status tanggap darurat. Jadi semuanya masuk transisi darurat menuju pemulihan, meskipun di Aceh masih ada tiga kabupaten kota yang masih tanggap darurat, yaitu Aceh Tamiang, Aceh Tengah, dan Pidie Jaya," kata Suharyanto.
Ia mengakui kalau bencana Sumatera menimbulkan dampak cukup besar. BNPB mencatat total korban meninggal dunia mencapai 1.204 jiwa.
"Jadi, yang meninggal dunia di tiga provinsi 1.204, hilang 140, mengungsi 105.000 lebih. Ini yang hilang sudah tidak ada lagi operasi pencarian pertolongan, sudah dihentikan oleh Basarnas, oleh tim gabungan, karena sekarang sudah masuk masa transisi menuju pemulihan," ujarnya.
BNPB, kata Suharyanto, hingga saat ini masih menempatkan personel di sejumlah wilayah terdampak, khususnya di Aceh yang masih memerlukan penanganan intensif.
"Kami mengerahkan 22 pesawat baik yang helikopter maupun fixed wing. Kemudian alat berat yang sekarang masih beroperasi di sana ada 2.704 unit. Kemudian juga alat-alat yang lain termasuk kapal laut ya," jelasnya. (man).







