Jakarta, Harian Umum- Wilayah Kepulauan Seribu merupakan wilayah yang rawan terjangan gelombang tsunami, karena selain rata-rata pulau di wilayah itu hanya memiliki tinggi 2 meter di atas permukaan laut, juga karena pulau-pulau di wilayah itu tidak memiliki perbukitan atau dataran tinggi.
"Kalau wilayah itu diterjang tsunami setinggi 2 meter atau lebih, maka wilayah itu akan habis," ujar Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) DKI Jakarta M Rico Sinaga kepada harianumum.com di Jakarta, Senin (14/1/2019).
Diakui, gelombang tsunami yang menerjang pesisir Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang, Provinsi Banten; serta pesisir Lampung Selatan pada 22 Desember 2018 yang dipicu longsoran di Gunung Anak Krakatau, membuat warga di kepulauan itu cemas. Apalagi karena saat gunung yang hanya berjarak sekitar 100 kilometer dari Kepulauan Seribu itu meletus lagi pada 26 Desember 2018, gunung itu, sebaran abu vulkaniknya tak hanya jatuh di Serang dan Cilegon, tapi juga di wilayah Kepulauan Seribu.
Kekhawatiran itu bertambah karena pada Oktober 2018 lalu Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati kepada BBC Indonesia mengatakan bahwa Indonesia berpotensi diguncang gempa besar dari megathrust, dengan kekuatan lebih dari 8 Skala Richter (SR). Para pakar menyebut, potensi tersebut berasal dari zona kegempaan atau seismic gap yang ada di sekitar Jakarta.
"Kekuatannya masih perdebatan di antara para pakar. Diperkirakan antara 8,1 SR hingga 9 SR," kata Dwikorita.
Jika gempa besar yang waktunya belum diketahui tersebut terjadi, dipastikan wilayah Kepulauan Seribu juga akan terdampak tak hanya oleh guncangannya, tapi juga oleh tusnami-nya jika gempa itu memicu gelombang mematikan tersebut.
Rico mengakui, saat ia berbincang dengan Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad saat penyerahan bantuan untuk korban gempa dan tsumani di Pandeglang dan Serang pada 5 Januari 2019, Bupati mengatakan kalau meski wilayahnya rawan tsunami, namun belum ada perangkat atau piranti yang dapat meminimalisir dampak bencana itu.
"Di Kepulauan Seribu belum ada early warning system untuk bahaya tsunami," kata Rico mengutip pernyataan Bupati.
Karena hal tersebut, Bupati berharap setiap warganya yang berjumlah sekitar 28.000 jiwa, dapat dibekali life jacket atau pelampung agar dapat menyelamatkan diri jika sewaktu-waktu tsunami menerjang.
"Dana pengadaan itu bisa bersumber dari APBD atau dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)," pungkasnya.
Saat dikonfirmasi melalui telepon, Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad membenarkan bahwa dari 110 pulau di wilayahnya, dimana 11 pulau di antaranya merupakan pulau berpenghuni, tidak satu pun yang memiliki gunung dan bukit, sehingga jika tsunami menerjang, penduduknya dalam bahaya besar karena tak dapat lari kemana pun.
"Selama ini hal tersebut memang belum ada yang memikirkan, namun setelah tsunami di Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan, hal ini mulai menjadi pemikiran. Apalagi karena jarak Gunung Anak Krakatau dengan Kepulauan Seribu hanya 100 kilometer," katanya.
Ia pun menilai bahwa saat ini penting adanya edukasi bagi warga Kepulauan Seribu untuk dapat selamat jika didatangi tsunami.
Saat gelombang mematikan itu menerjang, melarikan diri dengan perahu takkan ada gunanya. Maka, satu-satunya jalan adalah bagaimana warganya dapat tetap mengapung dan berenang mengarungi lautan saat diterjang tsunami.
"Yang memungkinkan hal itu adalah jika warga mengenakan life jacket atau pelampung," katanya.
Meski demikian Murad mengakui kalau pihaknya belum mengajukan anggaran untuk pengadaan life jacket itu ke Pemprov DKI.
"Tapi kita sudah berkirim ke BMKG agar di Kepulauan Seribu dipasangi early warning system tsunami," pungkasnya. (rhm)







