PARA JURAGAN itu telah puluhan tahun menjadi bagian dari layanan transportasi laut di Kepulauan Seribu, maka jangan biarkan mereka tenggelam dengan diresmikannya JakLaut.
--------------------------
Oleh: Tobaristani
Putra Asli Kepulauan Seribu/mantan Ketua FKDM Provinsi DKI pJakarta
Gubernur DKI Jakarta Bapak Pramono Anung, Jakarta punya "Bali" sendiri. Namanya Kepulauan Seribu. Kepulauan itu 110 pulau, pasir putih, sunset yang keindahannya mengalahkan sunset di Ancol, sementara jarak tempuh Muara Angke - Pulau Pramuka cuma 2 jam, lebih dekat dibanding jarak Jakarta - Puncak.
Prospeknya? Gila! 11 juta warga Jakarta + 30 juta warga Jabodetabek yang lapar akan liburan murah. Kalau Pemprov DKI Jakarta serius bikin "JakLaut Terintegrasi", 1-2 juta wisatawan/tahun bisa masuk ke Kepulauan Seribu, dan imbasnya pendapatan asli daerah (PAD) DKI dari pajak hotel, retribusi dermaga, hingga UMKM bisa bertambah triliunan rupiah.
Tapi Pak Gubernur, ada 1 hal yang kalau diabaikan, "Bali-nya Jakarta" ini bakal gagal: *nasib juragan kapal tradisional di Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke*.
Para juragan kapal tradisional itu merupakan tulang punggung transportasi dari dan ke Kepulauan Seribu. Selama 30 tahun kapal-kapal tradisional mereka mengantar sembako, warga sakit, dan turis jika kapal milik Pemprov DKI mogok. 1 kapal = ngasih makan 1 RT. Kalau JakLaut datang dengan kapal gede AC + tiket subsidi, terus kapal kayu warga ditendang, yang terjadi bukan "Jakarta Kota Global", melainkan "Jakarta Ganti Penjajah".
Jangan begitu, Pak. Ada tiga solusi yang akan membuat "Bali-nya Jakarta" sukses + warga pulau ikut kaya:
1. Juragan Kaliadem Jadi "Feeder JakLaut'
Jangan semua rute dipaksa pakai kapal gede. JakLaut cukup sampai Pulau Pramuka, dan selanjutnya dari Pulau Pramuka ke Pulau Panggang, Pulau Kelapa, dan Pulau Harapan manfaatkan kapal warga dengan sistem pembayaran per trip.
Tentu, agar turis nyaman, renovasi kapal-kapal itu, beri mesin baru, dan dilengkapi GPS. Dengan skema ini, Pemprov dapat menghemat anggaran karena tidak perlu membeli.kapal baru, sementara pemilik kapal tetap jadi juragan, dan wisatawan dapat menjelajahi pulau-pulau di Kepulauan Seribu, bahkan hingga pulau yang kecil.
2. Naik Kelas Jadi "Kapal Wisata Budaya"
Dari pengamatan saya, turis asing, terutama dari Eropa dan Amerika sangat menyukai menaiki kapal tradisional yang terbuat dari kayu, karena mungkin tidak ada di negaranya, sehingga terkesan unik.
Sambil menaiki kapal kayu itu, biasanya para turis bule mengabadikan sunset di ufuk barat, di atas gelombang laut.
Sayang, tidak semua kapal tradisional yang ber-AC, sehingga perlu ditingkatkan menjadi "Sunset Cruise Premium", dan perlu juga Pemprov melatih warga pulau menjadi tour guide yang memandu para turis dari Pelabuhan Kaliadem hingga selama berada di pulau.
Dengan demikian, selain tarif kapal.bisa dinaikkan menjadi ,3x lipat dari saat ini, warga pulau pun naik kelas dari "tukang angkut" menjadi "juragan wisata".
3. Bentuk"Koperasi Kapal Rakyat"
Dengan adanya koperasi ini, perang harga yang selama ini terjadi antarpemilik kapal, dapat dihentikan,.karena koperasi menggabungkan semua juragan kapal menjadi satu. Melalui koperasi ini, Pemprov DKI memberikan modal dan akses solar subsidi. Koperasi berfungsi sebagai operator resmi rute non-utama JakLaut.
Jadi, sebelum JakLaut diresmikan, saran saya Pak Gubernur Pramono Anung duduk bareng dulu dengan para pemilik kapal tradisional yang notabene merupakan warga Kepulauan Seribu. Minta merereka memilih satu dari tiga opsi di atas, apakah mau menjadi feeder, naik kelas menjadi kapal wisata, atau pensiun dengan pesangon + pelatihan UMKM.
Ketika Bapak berkampanye dalam rangka mengikuti Pilkada Jakarta 2024, visi utama Bapak dan wakil Bapak, yaitu Bapak Rano Karno, adalah menjadikan Jakarta sebagai pusat perekonomian inovatif dan kota global yang menyejahterakan seluruh warganya, baik dari segi sosial, ekonomi, maupun lingkungan.
Selain itu, selama menjadi gubernur slogan Bapak adalah "Jakarta Berkeadilan".
Maka, visi utama dan slogan Bapak diuji di sini. jika Kepulauan Seribu ramai turis, akan tetapi juragan Kaliadem bangkrut, maka Bapak gagal menjalankan visi utama dan slogan yang Bapak gaungkan sendiri, dan itu berarti Bapak dzolim.
Masa jabatan Bapak sebagai gubernur Jakarta masih cukup panjang, hingga 20 Februari 2030. Dalam waktu empat tahun, Bapak bisa berbuat banyak bagi warga Bapak yang bermukim di sebuah wilayah yang berupa gugusan pulau-pulau. Buktikan bahwa Bapak dapat menghadirkan transportasi yang modern di Kepulauan Seribu, dan pembangunan transportasi itu juga bisa meningkatkan perekonomian warga pulau. Kalau Singapura dan Hongkong bisa, masak Jakarta tidak bisa?
Bangunkan "Bali-nya Jakarta" sekarang, seiring dengan dibangunkannya juragan kapal tradisional di Kaliadem, karena tanpa mereka, pulau-pulau di Kepulauan Seribu cuma menjadi pantai kosong tanpa cerita.
Warga pulau tidak minta dikasihani. Mereka hanya minta diajak naik kelas. Maka, beri mereka setirnya, Pak Gubernur. Jangan buatkan mereka cuma jadi "penumpang".(*)







