Jakarta, Harian Umum - Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Amerika Serikat (AS) Chuck Hagel melontarkan penilaian pedas terhadap perang yang dikobarkan pemerintahan Donald Trump melawan Iran.
Penilaian itu disampaikan Menteri Pertahanan era Presiden Barack Obama itu (2013 - 2015) karena melihat fakta bahwa AS "kewalahan" menghadapi Iran dan tak mampu mengakhiri perang dengan cepat.
"Hagel mengatakan bahwa Teheran "memegang semua kartu" dalam perang dengan AS, dan menuduh Washington menciptakan konflik tanpa strategi yang jelas, membatasi transparansi, dan mengabaikan batasan kekuatan militer AS," demikian dilansir Fars News, Kamis (6/8/2026).
Menurut media Iran itu, Hagel juga mengkritik pemerintahan Trump karena membatasi akses jurnalis ke Pentagon dan mengandalkan pesan yang diproduksi pemerintah, alih-alih transparansi.
"Hagel bahkan menuding Kongres telah gagal melakukan pengawasan yang berarti atas jalannya perang, dan memperingatkan bahwa aksi militer yang berkepanjangan akan terus-menerus mengurangi persediaan senjata AS," imbuh Fars.
Hagel berpendapat bahwa diplomasi—bukan eskalasi militer yang berkelanjutan—tetap menjadi satu-satunya jalan realistis untuk mengakhiri konflik.
"Karena Iran memegang semua kartu dalam perang ini," katanya seraya menunjuk pada pengaruh strategis yang telah diperoleh Teheran selama perang
Mantan Kepala Pertahanan itu juga memperingatkan AS akan risiko yang harus ditanggung jik melakukan invasi darat ke Iran, dengan mengatakan bahwa bahkan militer paling mumpuni di dunia pun memiliki batasan operasional.
"Bercermin dari pengalamannyan sebagai veteran Perang Vietnam, Hagel mengatakan Amerika Serikat telah berulang kali memasuki perang darat tanpa strategi yang jelas dan akhirnya terpaksa mundur setelah menderita kekalahan. Ia memperingatkan Trump agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di Iran," katanya.
Perang AS-Israel vs Iran pecah pada 28 Februari 2026, setelah kedua negara itu menyerang Iran untuk menggulingkan rezim Revolusi Islam yang sedang berkuasa di Iran.
Trump sempat sesumbar bahwa perang ini hanya akan berlangsung beberapa hari, akan tetapi kekuatan Iran ternyata jauh dari bayangan Trump, sehingga Trump sempat "mengemis" yang dikamuflase dengan berbagai ancaman dan intimidasi agar Iran mau berunding untuk mengakhiri perang.
Lucunya, ketika Iran setuju berunding, AS justru berusaha mendikte Iran dengan cara mengajukan beragam syarat yang semuanya ditolak Iran, seperti mewajibkan Iran melepas kendali atas Selat Hormuz, menghancurkan fasilitas nuklirnya, dan menghentikN pengayaan uranium, dan di sisi lain, AS menolK semua syarat Iran.
Perundingan sempat buntu, sehingga akhirnya AS "mengalah" dengan mengakomodir tuntutan Iran.
Sayangnya, setelah akhirnya MOU diteken pada tanggal 18 Juni, AS kemudian melanggar MoU itu dengan membuatkan Israel terus menyerang Lebanon, meski Penghentian perang yang disepakati jug mencakup Lebanon, dan tak mau mencabut blokade terhadap perairan Iran.
Perang pun pecah lagi.
Belakangan, CSIS merilis data hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa perang telah menguras persenjataan Iran, sehingga rudal pencegat jenis Patriot telah berkurang hingga 65%. (man)







