Jakarta, Harian Umum - Sebuah buku yang layak untuk dibaca insan pers dan aktivis di Indonesia dirilis di Citos, Jakarta Selatan, Jumat (14/2/2025).
Buku itu berjudul "Jus Soema di Pradja, Sang Jurnalis Pembakar Semangat". Buku ini ditulis oleh penulis yang juga merupakan pendiri dan penanggung jawab jakartasatu.com, Aendra Medita.
Jus Soema di Pradja adalah mantan wartawan Harian Indonesia Raya dan Harian Kompas yang juga salah satu putra dari Menteri Dalam Negeri Negara Pasundan dan Dirut PT Pelni, Ma'moen Soema di Pradja.
Bang Jus, demikian Beliau biasa disapa, keluar dari Harian Kompas pada tahun 1978 karena setelah sempat dibredel sementara, Kompas termasuk media yang.menandatangi perjanjian dengan pemerintahan Orde Baru.
Perjanjian itu oleh Bang Jus disebut sebagai "Perjanjian Pengebirian", karena perjanjian yang terdiri dari lima pasal itu membuat Kompas cenderung menjadi corong pemerintah. Ini terjadi karena salah satu dari isi perjanjian tersebut adalah harus menjaga nama baik dan kewibawaan pemerintah dan pemimpin nasional. Artinya, Kompas hanya boleh memberitakan hal-hal yang baik dan positif tentang pemerintah.
Maklum, Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto menganut sistem.pemerintahan otoriterianisme.
Setelah tidak menjadi wartawan, Bang Jus menjelma menjadi sosok yang kritis terhadap pemerintah, dan selalu bergerak bersama aktivis demi kebaikan bangsa dan negara, sambil tetap memegang teguh nilai-nilai idealismenya.
Di usianya yang menginjak 78 tahun, tepat pada saat bukunya dilaunching, Tokoh bernama lengkap Rachmat Rusadi Soema di Pradja ini tetap membersamai para aktivis, termasuk ketika mereka menggelar aksi untuk melawan kecurangan Pemilu 2024, aksi menjelang putusan Mahkamah Konstitusi terkait kecurangan Pemilu 2024, dan sidang gugatan terhadap ijazah Joko Widodo yang diduga palsu yang digelar di PN Jakarta Pusat.
'Buku ini saya tulis berdasarkan pengalaman saya dengan Beliau (Jus Soema di Pradja) dan dijalani dalam proses selama dua tahun, dan Beliau menceritakan banyak sekali peristiwa- peristiwa, terutama tentang pers," kata Aendra terkait buku "Jus Soema di Pradja, Sang Jurnalis Pembakar Semangat" yang ditulisnya.
Menurut Aendra, peristiwa-peristiwa tentang pers yang terjadi di Tanah Air memang harus diungkap agar pers Indonesia, terutama yang berada di era saat ini, tahu.
"Buku ini juga mengisahkan tentang perjalanan hidup Bang Jus dan pemikiran Jus yang penuh semangat, kritis dan inspiratif," imbuh Aendra.
Menurut harianumum.com, judul "Jus Soema di Pradja, Sang Jurnalis Pembakar Semangat" memang cocok dengan karakter Bang Jus, karena dia termasuk tipe orang yang tidak mau berkompromi terhadap ketidakadilan dan kezaliman. Karenanya, tak mengherankan kalau dia termasuk tokoh yang berada pada posisi berseberangan ketika Presiden Joko Widodo berkuasa.
Bahkan karena sikapnya tersebut, meski Bang Jus berasal dari kalangan berada, dia hidup dalam kesederhanaan hingga di masa tuanya.
Sebab, meski banyak peluang baginya untuk masuk dalam lingkar kekuasaan, dia menolak dan sama sekali tidak iri pada kehidupan kawan-kawannya yang masuk dalam lingkaran itu.
'Saya nyaman begini, karena dengan begini saya tidak ikut merasa bersalah kalau ada rakyat yang merasa dizalimi dan hidup mereka susah," kita Bang Jus kepada harianumum.com suatu ketika, ketika mengobrol.
Bang Jus adalah salah satu contoh bagaimana seseorang yang telah memilih jalan Ronin dan konsisten di jalannya. Melihatnya, kita seperti melihat teladan bagaimana seharusnya menjadi jurnalis dan aktivis.
Juga, ketika melihatnya, kita harus malu bahwa jika Beliau bisa begitu, mengapa kita tidak? Apalagi negara dalam kondisi yang sangat tidak sedang baik-baik saja akibat amandemen UUD 1945 yang melahirkan UUD 2002.
Bang Jus memang pembakar semangat.
"Buat apa punya banyak harta, tokoh kalau kita mati harta tidak dibawa, karena yang akan kita bawa adalah amal ibadah dan kebaikan yang kita buat selama hidup di dunia," pesan Bang Jus kepada harianumum.com.
Lebih dari 200 orang hadir dalam acara peluncuran buku "Jus Soemabdi Pradja, Sang Jurnalis Pembakar Semangat', di mana mayoritas dari mereka adalah kawan dekat Bang Jus, tokoh-tokoh jurnalis dan aktivis senior.
Di antara mereka adalah mantan Kepala Badan Intelijen ABRI Mayjen (Purn) TNI Zacky Anwar Makarim, Pakar Geopolitik Hendrajit, Dr. drg. Paulus Januar Satyawan, Syahganda Nainggolan, Sri Bintang Pamungkas, dan lain-lain.
Launching ditandai dengan pemberian buku yang dirilis kepada sejumlah tokoh yang hadir, termasuk Mayjen (Purn) TNI Zacky Anwar Makarim. (rhm)







