Jakarta, Harian Umum- Sekretaris Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, Achmad Yani, mengatakan, Ridwan Saidi dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) harus duduk bareng untuk meng-clear-kan soal sejarah Pangeran Jayakarta.
Pernyataan itu disampaikan menyusul kedatangan budayawan Betawi itu ke fraksinya, Senin (21/1/2019), untuk menyampaikan keberatan pada kebijakan Disparbud yang tahun ini akan memugar makam Pangeran Jayakarta di Jalan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, dengan biaya hingga Rp38 miliar.
Ridwan keberatan karena Pangeran Jayakarta merupakan sosok yang tidak jelas dan tidak dikenal dalam sejarah.
"Kita tahu bahwa Pak Ridwan merupakan budayawan yang telah lama malang melintang dalam bidang sejarah, khususnya sejarah Betawi, sehingga pengetahuan dan informasinya perlu kita dengar," kata Yani kepada wartawan di gedung Dewan, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Tak lama setelah menerima kedatangan Ridwan ke fraksinya.
Meski demikian, ujar anggota Komisi A DPRD DKI ini, pihaknya juga perlu mendengar penjelasan Disparbud, karena tentu SKPD (satuan kerja perangkat daerah) itu punya data tentang sejarah Pangeran Jayakarta, sehingga punya alasan kuat untuk memugar makamnya.
Apalagi karena Makam Pangeran Jayakarta bukan hanya dianggap sebagai makam keramat oleh masyarakat, namun juga telah menjadi salah satu cagar budaya Pemprov DKI Jakarta. Makam ini bahkan merupakan salah satu tujuan wisata religi di Ibukota.
Ketika ditanya apakah Fraksi PKS akan memanggil Disparbud untuk meminta penjelasan atau akan menyerahkan masalah ini ke Komisi B sebagai mitra Disparbud? Yani mengatakan, fraksi bisa memanggil, tapi juga bisa diserahkan ke Komisi B.
"Nanti akan kita diskusikan dengan Pak Suhaimi (Abdurahman Suhaimi, ketua Fraksi PKS yang juga ketua Komisi B), karena yang pasti masalah ini harus di-clear-kan," kata dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, Budayawan Betawi Ridwan Saidi, Senin (21/1/2019), mendatangi Fraksi PKS, dan bertemu Yani. Ia meminta agar Disparbud menunda menunda pemugaran Makam Pangeran Jayakarta yang menelan dana hingga Rp38 miliar berdasarkan data APBD DKI 2019.
"Sebelum pemugaran dilakukan, sebaiknya dudukkan dulu siapa tokoh ini, karena hingga kini jati dirinya belum jelas," katanya Ridwan kepada wartawan usai bertemu Yani.
Mantan anggota Fraksi PPP DPR RI periode 1977-1982 dan 1982-1987 ini menegaskan, dalam sejarah, nama Pangeran Jayakarta tidak dikenal. Sosoknya diketahui melalui dongeng-dongeng yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena berasal dari penuturan orang-orang yang tidak kompeten.
"Sekain itu, dalam sejarah Jakarta tak ada orang yang berjulukan atau yang menyandang gelar pangeran," tegasnya.
Ridwan menyebut, Pangeran Jayakarta merupakan seorang pendatang dari Coromandel Cost, sebuah pantai yang menurut Wikipedia terletak di sebelah tenggara Semenanjung India. Nama aslinya Ranamanggala.
"Orang itu merantau ke Indonesia dan mendirikan bedeng di Pejagalan, Jakarta Utara. Bedengnya itu kemudian dibongkar VOC dan dia kemudian pindah ke Jatinegara Kaum. Di sinilah dia kemudian mengaku-ngaku sebagai Pangeran Jayakarta," katanya.
Ridwan mengaku belum bertemu Plt Kepala Disparbud Asiantoro untuk menyampaikan aspirasinya ini, karena katanya ia ingin terlebih dulu mendapat dukungan dari fraksi-fraksi di DPRD.
"Tadi saya sudah ke PKS dan bertemu Pak Achmad Yani (sekretaris Fraksi PKS, red)," kata dia.
Hingga berita ini ditayangkan, Asiantoro masih belum dapat dikonfirmasi karena harianumum.com belum mendapatkan nomor kontaknya.
Menurut referensi dari internet, Pangeran Jayakarta adalah seorang penguasa kota pelabuhan Jayakarta pada 1602-1619, sebagai wakil dari Kesultanan Banten. Meski demikian asal-usul hingga kini masih samar.
Satu sumber menyebut, Pangeran Jayakarta adalah nama lain dari Pangeran Achmad Jakerta, putra Pangeran Sungerasa Jayawikarta dari Kesultanan Banten, namun ada juga yang menganggap Pangeran Jayakarta adalah Pangeran Jayawikarta.
Di dalam kompleks makam ini terdapat sebuah masjid bernama Jami Assalafiiyah, dan di samping makam Pangeran Jayakarta terdapat empat makam lain. Keempat makam yang mendampingi makam Pangeran Jayakarta tersebut, menurut Kepala Pengurus Masjid Jami Assalafiiyah, Haji Suhendar, kepada Liputan6.com pada 6 April 2016, adalah makam Pangeran Lahut, anak Pangeran Jayakarta; makam Pangeran Soeria dan Pangeran Sageri, keponakan Pangeran Jayakarta; dan makam Ratu Rupiah, istri Pangeran Sageri.
Di sekitar lima makam itu terdapat ratusan malam lain yang mengelilinginya.
"Setiap hari ada saja warga yang berziarah untuk mendoakan Pangeran Jayakarta. Paling ramai malam Jumat Kliwon," jelas Suhendar.
Luas kompleks makam Pangeran Jayakarta ini mencapai 3.000 m2. (rhm)







