Jakarta, Harian Umum- Setelah sempat beredar informasi hoax soal perpanjangan PSBB hingga tanggal 18 Juni 2020, dan lantas membuat resah masyarakat DKI Jakarta, pada kamis 4 Juni 2020 akhirnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menetapkan PSBB Transisi.
Langkah tersebut diambil setelah melalui proses dialektika ilmiah yang cukup panjang dengan melibatkan berbagai ahli yang kompeten berbicara masalah virus covid-19. Hal tersebut dilakukan anies agar keputusan yang di ambil betul-betul komfrehensif.
"Selama 13 minggu kita menjalani masa pandemi COVID-19, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di DKI Jakarta. Kita bersama para ahli epidemiologi terus memantau perkembangan dengan menggunakan semua parameter. Dan kami di DKI Jakarta selalu mengandalkan pandangan ilmuwan, pandangan para pakar, dan bekerja bersama khususnya mereka-mereka yang terkait dengan bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat," katanya pada wartawan. (4/6)
Sementara, pihak-pihak yang Anies maksud adalah para medis atau mereka yang bersentuhan langsung dengan sektor kesehatan.
"Ketika kita membahas mengenai rencana ke depan, secara khusus kita membahas dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Pengurus Pusat Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Perhimpunan Geriatri Medik Indonesia (Pergami), Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi (POGI), dan juga tim Ahli Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) di Universitas Indonesia," lanjutnya.
Dari kajian teraebut, disebutkan Anies bahwa tidak cukup hanya mengandalkan 1-2 indikator saja, melainkan harus dilihat secara komfrehensif dengan mempertibangkan parameter-parameter lain nya. Misalnya tingkat kasus positif, tingkat kematian, kapasitas Rumah Sakit, tren jumlah tes, kesiapan fasilitas dan ruang kesehatan, kondisi tenaga kesehatan, penambahan ODP maupun PDP, juga tingkat kesembuhan pasien.
"Jadi, parameternya dirumuskan selengkap mungkin, dan juga pemantauan dari semua parameter itu tidak hanya dilakukan di level provinsi, atau level kota, tapi juga sampai level RW. Kita bahkan bisa memantau pola pergerakan kasus tingkat klaster dan individu. Ini alhamdulillah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh tim DKI Jakarta, yaitu epidemiology informatics, sehingga petugas-petugas kita mampu mendeteksi pergerakan penularan. Dan ini seperti berlomba mendeteksi, memolah, mengisolasi, melakukan treatment. Ini semua dilakukan dengan menggunakan data yang lengkap," jelasnya.
Gubernur secara detil dan rinci menyampaikan perkambangan covid-19 di provinsi DKI Jakarta. Dimulai sejak periode maret 2020 yang disebutnya sebagai prapandemi, yaitu sebelum penetapan PSBB periode pertama hingga hari ini di tetapkanya PSBB transisi.
"Sekarang saya ingin menunjukkan parameternya. Pertama ini status Rt per hari ini yaitu 0,99. Tapi ini kita bergerak panjang. Di bulan Maret, angka Rt kita sekitar 4. Kemudian kita mulai melakukan pembatasan. Penutupan sekolah, tempat wisata, CFD, kantor-kantor. Panggilan untuk bekerja di rumah dimulai di pertengahan Maret ini. 16 Maret sekolah tutup, Work From Home dimulai. Fasilitas-fasilitas publik ditutup. Apa artinya angka ini? Kalau angka 4 kira-kira begini artinya kalau skornya 4 artinya 1 orang menularkan kepada 4 orang. Kalau angka 3, ini satu orang menularkan kepada 3 orang. Kalau angka dua juga begitu definisinya. Kalau satu, satu menularkan pada satu orang. Bila di bawah satu artinya sudah tidak menularkan. Atau dengan kata lain, selama nilai atau angka Rt di atas 1, maka wabah akan terus bisa berkembang. Ketika Rt-nya di bawah satu, maka wabah ini sudah terkendali dan bisa menurun," paparnya.
Orang nomor 1 di DKI Jakarta ini mengakui bahwa telah terjadi penurunan kasus secara drastis dari mulai masa prapandemi hingga puncaknya bulan april-mei, bahkan sampai awal juni ini.
"Alhamdulillah, Jakarta di akhir Mei di awal Juni menunjukkan angka yang turun. Di sini bisa dilihat angkanya. 18 Mei kita masih 1,09. Bergerak terus sampai sekitar 1,03. Lalu 31 Mei angka Rt kita 1.00. Lalu 1 Juni 0,9; 2 Juni 0,9; 3 Juni 0,9. Ini adalah kerja kita semua yang membuat angka ini bisa menurun," katanya.
Namun demikian, di tinjau dari Jakarta secara menyeluruh, dengan jumlah penduduk 11.058.944 orang yang tersebar di 44 Kecamatan, 267 Kelurahan, 2.741 RW. Pemerintah provinsi DKI Jakarta masih harus secara khusus menngendalikan covid-19 di 66 RW.
"Inilah yang ingin saya gambarkan bahwa karena kita punya potret besarnya. Sekarang kita coba lihat, ternyata kita menemukan bahwa di Jakarta ini ada 66 RW dengan laju Incidence Rate yang masih harus mendapatkan perhatian khusus. Tapi saya perlu berikan proporsinya ya. Jumlah RW ada 2.741. 66 ini adalah 2,4% dari seluruh total RW, yang 97,6% alhamdulilah relatif terkendali," jelasnya.
Disamping capaian yang dihasilkan dari kerja sama multi pihak, terlebih kesadaran masyarakat untuk tetap saling menjaga agar tidak beraentuhan secara langsung, dalam pengendalian covid-19 tersebut, DKI Jakarta menunjukan perkembangan yang cukup baik. Namun di sisi lain, masih terdapat daerah dalam lingkup ke-RW-an yang harus mendapat perhatian serta penangan serius. Atas dasar itu, langkah PSBB Transisi diterapkan.
"Jadi melihat itu semua, hasil kerja jutaan orang di Jakarta yang sudah menghasilkan zona merah menjadi hijau, maka kami Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 DKI Jakarta. Kita memutuskan untuk menetapkan status PSBB di DKI Jakarta diperpanjang dan menetapkan bulan Juni ini sebagai masa transisi. Secara umum sudah menjadi hijau kuning, ada wilayah-wilayah yang masih merah, karena itu kita masuk status PSBB. Tapi di sisi lain, kita sudah memulai melakukan transisi," tutupnya. (hnk)







