KEDUA ISTANA itu melambangkan kemenangan besar perjuangan para pahlawan dalam mengusir penjajah. Bagaimana bisa disebut masih berbau kolonial?
------------------------------
Oleh: Adian Radiatus
Pengamat sosial dan politik
Presiden Jokowi menyampaikan perasaannya terkait Istana Jakarta dan Bogor yang menurut dia berbau kolonial.
"Saya rasakan...," mbuhnya di hadapan media.
Menjadi pertanyaan menarik mengapa bila selama ini merasa bahwa istana-istana itu bau kolonial, tetapi diungkapkannya baru sekarang ketika masa jabatan akan berakhir dan ketika peringatan Hari Kemerdekaan ke 79 akan diselenggarakan di IKN?
Memang harus diakui segala kritik yang dilontarkan kalangan akademik, pencinta negeri dan masyarakat intelektual secara luas semakin menjelma kebenarannya, kalau pernyataan itu dikaitkan dengan watak dan karakter Jokowi yang oleh BEM UI dijuluki "the king of lip service". Julukan itu bisa saja menjadi semacam deteksi atas perilaku kepemimpinan Jokowi bagi bangsa dan negara ini.
Kini, di sisa waktu menghitung minggu menjelang masa jabatannya berakhir, malah melontarkan ungkapan perasaan yang cenderung palsu (mengingat sikap kepalsuannya selama ini) bahwa dirinya selama ini membaui hawa kolonial di Istana Jakarta dan Bogor. Sesuatu yang tanpa disadarinya telah merendahkan kebesaran bangsa ini dalam memerdekaan negerinya tercinta.
Kedua Istana itu justru melambangkan kemenangan besar perjuangan para pahlawan tanpa pamrih dan di antara kemenangan itu adalah terusirnya para penjajah (kolonial) yang dilambangkan dengan direbutnya Istana yang kemudian menjadi Istana Negara dan Istana Merdeka. Bagaimana bisa disebut masih berbau kolonial?
Sangatlah naif mencoba mengaitkan bau kolonial dengan keberadaan kedua Istana itu. Apakah dengan perumpaan seperti itu artinya Tanah Air ini juga berbau kolonial? Bila demikian adanya, maka Presiden Jokowi tampaknya perlu duduk kembali ke bangku sekolah menengah guna memahami apa arti kolonial dan kemerdekaan. Maaf.
Karena presiden juga seorang manusia biasa yang tak sempurna, bukan berarti rakyat harus maklum atau mengerti, karena menjadi sulit bagi rakyat bila jiwa kepemimpinannya kerdil dan tidak paham sebagai seorang negarawan, yaitu yang memahami etika pengetahuan terkait sejarah dan dinamika perjalanan bangsanya.
Kolonial identik dengan penjajahan dan diktatorian yang bersifat menindas, memainkan politik adu domba serta berwatak serakah juga kejam dengan tampilan tak berdosa. Bila ingin "mematikan" pihak lawan, maka akan dipakai tangan orang lain. Ciri-ciri ini dalam sisi tertentu sangat terasa tercermin dalam perilaku kepemimpinan Jokowi. Miris.
Maka tak pelak ketika Jokowi menyatakan merasakan atmosfir "bau kolonial" seakan publik disadarkan kepada caranya mengurus negeri ini. Banyak kekeliruan dan kerusakan struktural pengelolaan tata perekonomian dan perpolitikan yang berimbas kepada kemunduran kekuatan hukum dan keadilan bagi masyarakat luas.
Dengan kata lain bila pemindahan Istana hanya berbasis rasa bau kolonial, sehingga ada kepuasan membangun yang baru di IKN sangat tidak tepat dan cenderung ego sentris mengabaikan sejarah yang seharusnya saling mengikat dan bukan membuatnya menjadi sekat-sekat ikatan bathin rakyat terhadap perjuangan yang telah menghadirkan Istana Negara dan Istana Merdeka itu.
Lantas menjadi pertanyaan menarik secara moralitas kebangsaan, bila Istana Jakarta dan Bogor terasa oleh Jokowi bau kolonial, maka Istana IKN itu bau apa? Sampai saat ini rasanya bau kepalsuan akan cinta bangsa dan negara lebih dominan karena Istana IKN tidak diiringi jiwa dan semangat kebangsaan rakyat sejak dibangun tetapi lebih karena semangat ambisinya presiden Jokowi belaka...




