Jakarta, Harian Umum - Seperti sudah diduga, Merah Putih: One For All, film animasi buatan Perfiki Kreasindo yang disutradarai Endiarto dan Bintang Takari mencatatkan rekor terburuk dalam sejarah film animasi Indonesia.
Di situs perfilman IMDb, film animasi yang disebut-sebut berbiaya Rp6,7 miliar itu hanya mendapat rating 1 dari 10 bintang, terburuk dari semua film animaii yang.pernah dibuat di Indonesia, dan hanya di-review 115 orang.
Sebagai perbandingan, film animasi Jumbo yang tembus 10 juta penonton dan dinobatkan menjadi film terlaris di Indonesia mengalahkan KKN di Desa Penari, mendapat rating 8,1 dari 10 bintang dari total 3.031 review.
Dari 115 orang yang review film Merah Putih: One For All, semuanya memberikan kritik pedas.
"Film yang disebut-sebut ini merupakan sebuah penghinaan bagi siapapun yang masih hidup dan bagi para prifesional yang bekerja di talent," kata @ryanw-55 seperti dikutip dari situs IMDB, Selasa (19/8/2025).
"Apa-apaan ini, Bro? Serius deh. Filmnya sepenuhnya pakai AI?! Lagu, animasi..gimana Indonesia," kata FeliciaJ-69.
Jumlah penonton film ini pun menyedihkan. Menurut akun X @cinepoint_, saat opening film ini pada tanggal 14 Agustus 2024 jumlah penonton hanya 54 orang, akan tetapi pada penayangan hari kedua tanggal 15 Agustus 2025 jumah penonton melonjak menjadi 720 orang, sementara opening animsii Jepang berjudul Demon Slayer: Infinity Castle pada hari yang sama langsung tembus 4.369 penonton.
Pada hari ini, Selasa (19/8/2025), @cinepoint_ tidak mencatat adanya jumlah penonton Merah Putih :One For All, sementara jumlah penonton Demon Slayer: Infinity Castle tercatat sebanyak 4.587 penonton.
Sejak thriller Merah Putih One For All dirilis di YouTube, film ini telah menuai kritik karena animasinya yang buruk dan ceritanya yang cenderung tak masuk akal. Bahkan kemudian muncul thriller-thriller KW film itu yang dibuat sejumlah animator dengan tampilan yang jauh lebih bagus, tentu dengan bantuan AI.
Merah Putih: One For All berkisah tentang 8 anak dari berbagai suku, antara lain Papua, Jawa, Betawi, dan Tionghoa yang mendapat tugas mengibarkan bendera pada HUT RI ke-80 pada tanggal 17 Agustus 2025, akan tetapi benderanya hilang.
Tidak dijelaskan apa keistimewaan bendera itu, sehingga kedelapan anak tersebut langsung mencarinya ke hutan dan menghadapi sejumlah tantangan. Juga tidak dijelaskan bagaimana anak-anak itu tahu bahwa mereka harus mencarinya ke hutan karena tak ada petunjuk apapun terkait hal itu. Padahal, jika bendera itu bendera yang sama dengan yang umum dikibarkan masyarakat, bendera itu bisa dibeli di penjual bendera. (rhm)






