Jakarta, Harian Umum- Memasuki bulan Agustus sejatinya masyarakat Indonesia selalu menyambutnya dengan sukacita. Pada tahun-tahun sebelumnya, bulan kemerdekaan ini biasanya diisi oleh ragam kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT-RI).
Namun lain hal pada tahun ini, pandemi covid-19 telah merenggut kegembiraan masyarakat Indonesia jelang pesta tahunan HUT RI kali ini. Jika sebelumnya bermacam perlombaan dan hiburan menghiasi setiap sudut negeri, nampaknya tahun ini segala aktivitas yang melibatkan kerumunan mesti urung digelar.
Akan tetapi kondisi ini tidak menyurutkan semangat refleksi kemerdekaan bagi kalangan muda di Kabupaten Tasikmalaya. Sejumlah pemuda di Kecamatan Sukaresik kabupaten Tasikmalaya mempunyai cara sendiri untuk mengenang dan merefleksi kemerdekaan Republik Indonesi tahun ini.
Sanggar Pembebasan. Begitulah tempat ini disebut para pemuda sebagai ruang ekspresi dalam rangka menyambut setiap momentum dengan cara sendiri dan positif.
Andri Nurkamal, Tokoh muda yang membidani sanggar ini mengatakan bahwa sejatinya bulan kemerdekaan ini diisi oleh hal yang menumbuhkan semangat merdeka bagi setiap warga. Salah satunya adalah membantu serta membersamai anak-anak lulusan SMP atau sederajat untuk melanjutkan sekolah ke tingkat selanjutnya dengan penuh optomisme dan percaya diri.
"Bagi kami, kemerdekaan itu bukan hanya perayaan seni dan hiburan semata. Lebih dari itu, kemerdekaan mesti benar-benar dirasakan oleh setiap warga. Contoh kecil adalah kemerdekaan pendidikan bagi warga tidak mampu. Kami pastikan, kami upayakan dan kawal mereka merasakan kemerdekaan di bidang pendidikan,". Katanya (5/8).
Menurut Andanu, sapaan Andri, ada sekitar 25 orang santri alumni pesantren Persis 42 Sukaresik yang Ia kawal untuk melanjutkan pendidikan ditingkat Aliyah atau sederajat.
"Sedikitnya 25 orang santri lulusan tsanawiyah yang tahun ini kami bersamai untuk bisa melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Mereka jelas lahir dari keluarga tidak mampu, maka kami kawal terus,". Tambahnya.
Ia juga menambahkan, ke-25 orang santri tersebut disebar ke beberapa sekolah menengah atas/aliyah di Tasikmalaya dan Garut.
"Mereka kami sebar ke beberapa sekolah dan pesantren di Tasikmalaya dan Garut. Sebetulnya cukup berat juga meyakinkan keluarga mereka yang notabene kurang mampu untuk membiarkan anak-anak mereka melanjutkan sekolah, alasanya jelas persoalan biaya," lanjut nya.
Disinggung soal biaya kebutuhan sekolah serta peran pemerintah, Andanu senyum dan geleng kepala.
"Kita lelah menunggu peran dan kepedulian pemerintah. Sebaiknya biar kami saja para pemuda patungan dari kantong kami sendiri atau mengetuk donasi dari masyarakat yang peduli pendidikan. Harapan saya ada siapapun itu yang peduli terhadap pendidikan adik-adik kami di sini, kita sama-sama penuhi hak pendidikan mereka agar mereka betul-betul merasakan kemerdekaan sesunggunya," tutupnya. (hnk)







