Teheran, Harian Umum - Seorang politisi senior Iran membuat analisis yang sangat mengagetkan.
Kepada wartawan Al Mayadeen, politisi yang tak disebutkan namanya itu, dan hanya disebut sebagai sumber politik senior Iran itu mengatakan,Presiden AS Donald Trump sengaja berupaya mendorong harga minyak lebih tinggi untuk memicu gangguan ekonomi yang lebih luas di seluruh dunia, bahkan dengan mengorbankan rakyat Amerika.
"Sumber tersebut mengutip pernyataan Trump sendiri, bahwa kenaikan harga minyak adalah "harga kecil yang harus dibayar" untuk mencapai tujuannya. Ini menurut sumber merupakan pengakuan tersirat atas niat Trump sebenarnya untuk berperang," kata Al Mayadeen dikutip Rabu (6/5/2026).
Sumber itu menambahkan bahwa semua orang tahu bahwa perang yang diprakarsai oleh Trump adalah pendorong utama melonjaknya harga minyak global, dan memicu krisis energi di banyak negara.
Sumber tersebut lebih lanjut mengatakan bahwa kapal-kapal yang saat ini terdampar di Teluk Persia dan Laut Oman karena tak bisa melewati Selat Hormu, menanggung akibat dari eprwng yang dikobarkan Trump, karena agresi Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membuat Iran menutup Selat Hornuz, sehingga mengganggu pelayaran dan perdagangan global, khususnya untuk komoditas minyak dan gas alam cair.
Mengenai status selat strategis tersebut, sumber menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz sepenuhnya berada di tangan angkatan bersenjata Iran dan tidak akan didikte oleh kekuatan eksternal mana pun.
Sumber tersebut menyimpulkan bahwa dengan dikeluarkannya peringatan keras dari Iran atas tindakan AS yang memusuhi dan sembrono terhadap Iran, agresi yang terus berlanjut justru hanya akan membuat harga minyak global akan terus melonjak hingga level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Harga Perang
Pada tanggal Selasa(5/5/2026), harga minyak Brent diperdagangkan pada $110 per barel, sekitar $50 lebih tinggi dari tahun lalu. Pada hari sebelumnya, yakni Senin (4/5/2026), harga Brent bahkan sempat melonjak di atas $114 per barel karena eskalasi baru di Selat Hormuz, termasuk serangan terhadap UEA dan kebakaran di pusat minyak Fujairah, sebelum kembali stabil di kisaran $109 per barel setelah Washington bersikeras bahwa gencatan senjata tetap berlaku.
Besarnya gangguan ini telah memicu gelombang penilaian suram dari lembaga ekonomi internasional.
Bank Dunia, dalam Laporan Prospek Pasar Komoditas terbarunya yang dirilis pada 28 April, menggambarkan perang tersebut sebagai pemicu "guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah tercatat," dengan pengurangan awal pasokan minyak global sekitar 10 juta barel per hari.
Kepala Ekonom bank tersebut, Indermit Gill, memperingatkan bahwa perang ini menghantam ekonomi global dalam gelombang kumulatif, karena melalui harga energi yang lebih tinggi, maka harga pangan akan naik, dan pada akhirnya memicu inflasi yang lebih tinggi, dan itu akan mendorong kenaikan suku bunga serta membuat utang menjadi lebih besar.
Laporan Prospek Ekonomi Dunia IMF bulan April memangkas perkiraan pertumbuhan global menjadi 3,1% untuk tahun 2026 dan menaikkan proyeksi inflasi global menjadi 4,4%, sebuah penyimpangan tajam dari tren disinflasi beberapa tahun terakhir.
Dalam skenario terburuk di mana gangguan energi berlanjut hingga tahun 2027, IMF memperingatkan bahwa pertumbuhan global dapat turun menjadi 2%, sementara inflasi akan melebihi 6%. (man)







