Jakarta, Harian Umum - Eksponen Aktivis 98 Ray Rangkuti menilai, Pemilu 2024 merupakan Pemilu dengan kualitas paling buruk dalam era reformasi di Indonesia yang bergulir sejak 1998.
Penilaian itu disampaikan dalam diskusi bertajuk "Ilusi Pemilu dan Demokrasi: Berpolitik, Bernegara, dan Berkonstitusi" yang diselenggarakan PARA Syndicate di kantornya di kawasan Petogogan, Jakarta Selatan, Jumat (15/12/2023).
"Saya terlibat dalam aktivitas pemantauan Pemilu, dari Pemilu 1997, 1999, 2004, 2009, 2014, 2019, dan kini Pemilu 2024. Apa yang bisa saya tarik, di luar Pemilu 1997 karena itu Pemilu di era Orde Baru, bahwa Pemilu (2024) inilah yang paling jelek kualitasnya," kata dia.
Ray menyebut alasannya berkesimpulan demikian:
1. Karena ada aturan yang diubah oleh Mahkamah Konstitusi (MK).
Aturan yang dia maksud adalah pasal 169 huruf q UU Pemilu yang oleh MK ditambahkan norma baru dari hanya mengatur bahwa usia Capres-Cawapres minimal 40 tahun, ditambah dengan yang telah atau sedang menjabat suatu jabatan yang dipilih melalui pemilihan umum, termasuk kepala daerah.
Perubahan ini memuluskan walikota Solo yang juga merupakan anak sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, menjadi Cawapres untuk Prabowo Subianto yang diusung Koalisi Indonesia Maju di usianya yang baru 36 tahun.
2. Kedua ada ketentuan debat Capres-Cawapres yang ingin diubah untuk disesuaikan dengan keperluan dan kepentingan calon tertentu.
Untuk hal ini, seperti kita tahu, KPU mengubah format debat untuk Pilpres 2024. Jika pada Pilpres 2019 formatnya adalah, lima kali debat dengan komposisi satu kali debat khusus Cawapres, dua kali khusus Capres, dan dua kali dihadiri Capres-Cawapres. Untuk 2024 formatnya tetap lima kali debat, tetapi debat khusus Cawapres tetap dihadiri oleh Capres.
Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari mengatakan, format debat diubah agar pemilih dapat melihat sejauh mana kerja sama masing-masing Capres-Cawapres dalam penampilan debat.
"Sehingga kemudian supaya publik makin yakinlah teamwork (kerja sama) antara Capres dan Cawapres dalam penampilan di debat," kata Hasyim pada 30 November 2023.
Namun, publik curiga perubahan format itu untuk 'menolong' Gibran karena dia akan berhadapan dengan Mahfud MD dan Muhaimin Iskandar yang merupakan Cawapres Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan.
3. Bawaslu Tak bisa ngapa-ngapain
4. Belum apa-apa, KPU diberi sanksi berat oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) karena alasan tertentu
5. Ada aturan yang tak jelas, karena menerima pasangan calon (Paslon) dengan Peraturan KPU (PKPU) nomor sekian dan mengesahkannya dengan PKPU yang lain.
'Itu dua PKPU yang berbeda. Padahal PKPU yang pertama dipakai dengan nyata-nyata menyatakan bahwa batas minimal usia Capres-Cawapres 40 tahun. Lalu diterima calon wakil presiden yang usianya di bawah 40 tahun, di tengah jalan ketika (para Paslon) akan disahkan, diubah PKPU-nya dengan mengadopsi putusan Mahkamah Konstitusi, dan itu sampai sekarang digugat," jelas Ray.
PKPU yang dimaksud Ray diubah adalah PKPU Nomor 19 Tahun 2023 yang mengatur bahwa usia Capres-Cawapres minimal berusia 40 tahun
Selain kelima hal tersebut, Ray juga mengatakan bahwa kualitas Pemilu 2024 merupakan terburuk dalam sejarah reformasi adalah tidak adanya wacana yang dimunculkan.
Pada Pilpres 2014, kata dia, meski Indonesia dihadapkan.pada isu Politik Indentitas, tetapi perdebatan terkait hal itu kuat sekali.
Di Pilpres 2019, Indonesia dihadapkan pada hoaks dari orang yang mengaku dipukuli hingga masuk rumah sakit, tapi ternyata tidak (kasus Ratna Sarumpaet, red), tapi perdebatan terkait hal itu oleh Jokowi dan.Prabowo yang kala itu bersaing sebagai Capres, juga kuat.
'Tapi di 2024 ini pemilih bukan diajak berdebat isi kepala, tapi berdebat cara, gaya bagaimana joget," katanya.
Ray mengaku menyayangkan hal ini, karena menurut dia, ini kali pertama dalam sejarah politik Indonesia di mana masyarakat dengan senang hati memfasilitasi dibuatnya perdebatan-perdebatan untuk para Capres-Cawapres, dan sayangnya forum debat itu tidak dimaksimalkan oleh salah satu pasangan calon, dan kemudian mereka meminta agar publik menunggu perdebatan di.KPU.
"Padahal yang namanya kampanye menjual ide, bukan menjual . makan siang dan minum susu,' katanya.
Seperti diketahui, Capres yang gemar memamerkan joget adalah Capres-Cawapres nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Mereka juga yang punya program memberi makan siang dan minum susu gratis. (rhm)







