Jakarta, Harian Umum - Mahasiswa Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) Jakarta mendesak Polda Metro Jaya agar segera menuntaskan kasus dugaan penyelewengan dana universitasnya dilakukan oleh Hermanto J. Moestopo, mantan Ketua Yayasan Universitas Moestopo.
Dana yang diselewengkan sangat besar, lebih dari Rp10 miliar.
Tuntutan itu disampaikan melalui unjuk rasa di lingkungan kampus Moestopo Jakarta, Jumat (9/8/2024). Dalam aksi ini, mahasiswa tak hanya menggelar orasi, tetapi juga melakukan aksi dengan menggunakan gerobak yang di dalamnya terdapat beberapa mahasiswa.
Mahasiswa-mahasiswa di dalam gerobak itu menutup wajah mereka dengan kertas HVS yang diberi tulisan, dan memegang kertas HVS yang dibentangkan dan di kertas itu juga terdapat tulisan. Di antaranya tulisan "Transparansi Keuangan" dan " Penyalahgunaan Keuangan".
Sementara di sisi gerobak dibentangkan spanduk bertuliskan "Masalah Moestopo". Tulisan itu dibuat dengan spidol merah.
Mereka juga membentangkan spanduk dengan tulisan merah di gerbang kampus. Tulisan di spanduk itu berupa kalimat "Usut Para Koruptor".
"Dugaan tindak pidana penyelewengan dana Universitas Prof Dr Moestopo Jakarta memicu aksi protes mahasiswa. Hermanto J. Moestopo yang mantan ketua Yayasan Universitas Moestopo telah ditetapkan sebagai tersangka dan kini mendekam sebagai tahanan di Polda Metro Jaya," kata Rekah Buana Bawengan, dinamisator lapangan mahasiswa Universitas Moestopo, saat membacakan keterangan pers di hadapan media. Dia didampingi Aisyah Muna Khanza, Ketua Lembaga Mahasiswa Universitas Moestopo, dan rekan-rekannya yang berpartisipasi dalam aksi.
Sebelumnya, pada Juli 2024, para mahasiswa ini juga menggelar aksi protes atas dugaan penyelewengan dana tersebut, serta mengajukan mosi tidak percaya kepada yayasan.
"Kami menuntut penyelewengan dana itu segera diusut tuntas, dan para pelakunya, yakni mantan ketua Yayasan dan kroni-kroninya, segera diproses hukum!" imbuh Rekah.
Aisyah membeberkan kalau ada dugaan orang-orang yang terlibat dalam korupsi itu masih menjabat di kepengurusan yayasan dan kampus.
"Karena itu, kami juga mendesak adanya transparansi dan penjelasan yang jelas terkait dugaan penyelewengan itu demi menjaga kepercayaan dan nasib mahasiswa maupun Universitas Moestopo," imbuhnya.
Diakui, kejelasan mengenai dugaan penyelewengan dana itu sangat penting karena akan membantu memastikan bahwa yayasan dapat beroperasi secara efektif dan efisien, karena kejadian ini memperburuk kegiatan belajar mengajar dan kegiatan lembaga mahasiswa.
Sebab, meski pandemi Covid-19 sudah berlalu, kuliah di Moestopo masih sering dilakukan secara online, sehingga menurunkan aktivitas mahasiswa di kampus, dan kampus pun sepi seperti mati suri.
"Pusgiwa pun sepi. Belum lagi beberapa dosen pernah merendahkan ketua Lembaga Mahasiswa FISIP," imbuh Aisyah.
Mahasiswa berhijab yang akrab disapa Chaca ini juga membeberkan kalau akibat tidak transparannya dana kegiatan mahasiswa, banyak kegiatan mahasiswa yang belum cair. Bahkan karyawan sempat terancam tidak gajian.
"Kami mahasiswa mendesak pihak kepolisian mengusut tuntas hingga ke akar-akarnya dugaan tindak pidana penggelapan yang terjadi di Yayasan Universitas Moestopo. Kami juga berharap polisi dapat mengembangkan kasus dugaan penyelewengan dana ini hingga terungkap siapa saja oknum-oknum yang terlibat," katanya.
Chaha menegaskan, penuntasan kasus ini oleh Polda Metro Jaya juga penting untuk memastikan
keadilan, integritas serta transparansi dalam pengelolaan Yayasan dan Universitas Moestopo.
Untuk diketahui, Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama) Jakarta didirikan pada tahun 1962. Konflik internal di kampus ini sebenarnya telah berlangsung lama, sekitar 10 tahun menurut keterangan mahasiswa S2 di kampus itu, akibat adanya perebutan pengelolaan di antara anak-anak pemilik yayasan.
Kasus dugaan penyelewengan dana oleh Hermanto yang kini ditangani Polda Metro Jaya, memperburuk situasi di kampus itu, sehingga jumlah mahasiswa pun anjlok.parah dari sekitar 5.000an, menjadi di bawah 1.000 mahasiswa.
Chaca mengatakan, untuk mengatasi persoalan Universitas Moestopo, dibutuhkan kepemimpinan yang kompeten dan berintegritas yang tinggi.
"Karena itu kami serukan, SELAMATKAN MOESTOPO!" tegas dia. (rhm)







