NAMUN, apapun yang terjadi di balik insiden tragis itu, saya menilai ini merupakan cerminan belum baiknya layanan kereta api di Indonesia.
----------------------------
Oleh: Tobaristani
Mantan ketua FKDM DKI Jakarta/Pengamat Sosial
Peristiwa tragis mengguncang Tanah Air pada Senin (27/4/2026) malam, ketika KA Argo Bromo Anggrek jurusan Gambir - Surabaya Pasarturi yang melaju dengan kecepatan sekitar 110 kilometer/jam, menabrak KRL Commuterline tujuan Cikarang di jalur 2 Stasiun Bekasi Timur.
Akibatnya sangat fatal, dinding gerbong paling belakang dari rangkaian gerbong KRL Commuterline jurusan Cikarang, jebol dan lokomtif Argo Bromo menyuruh masuk ke gerbong yang langsung ringsek itu, untuk kemudian berhenti.
Kerasnya benturan juga meringsekkan gerbong kedua dari belakang.
Hingga Selasa (28/4/2026) malam, 15 orang dinyatakan tewas dan 76 orang luka-luka. Mereka yang terluka hingga kini dirawat di sejumlah rumah sakit, salah satunya RSUD Kota Bekasi.
Saya melihat adanya kelalaian dari petugas yang mengatur arus lalu lintas kereta di lingkungan PT Kereta Api Indonesia (KAI), karena dari keterangan polisi kita tahu bahwa kecelakaan tragis itu bermula dari adanya insiden lain di perlintasan Ampera yang berada tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur.
Menurut polisi, sebelum tabrakan maut itu terjadi, sebuah taksi listrik mengalani korsleting saat akan melintasi perlintasan itu, dan mogok di rel.
Kemudian, datang KRL dari arah Cikarang menuju Stasiun Bekasi Timur, dan taksi itu tertabrak serta terseret. Insiden ini membuat jadwal kereta terganggu, bahkan KRL Commuterline tujuan Cikarang yang ditabrak KA Argo Bromo Anggrek tak bisa langsung melanjutkan perjalanan setelah menurunkan dan menaikkan penumpang di jalur 2 Stasiun Bekasi Timur.
Pertanyaannya; apakah petugas tidak tahu adanya insiden di Perlintasan Ampera, sehingga laju KA Argo Bromo Anggrek tidak dihentikan jauh sebelum memasuki Stasiun Bekasi Timur? Mestinya, menurut hemat saya, dalam radius 10 kilometer dari lokasi kecelakaan di Perlintasan Ampera, petugas sudah tahu adanya insiden itu, sehingga langsung mengingatkan masinis Argo Bromo Anggrek agar menghentikan laju keretanya. Apalagi, karena laju kereta jarak jauh itu lebih dari 100 kilometer/jam.
Namun, apapun yang terjadi di balik insiden tragis itu, saya menilai ini merupakan cerminan belum baiknya layanan kereta api di Indonesia. Ketika pada tahun 2013 PT KAI Commuter Jabodetabek menghapus kelas ekonomi dan eksekutif dengan dalih untuk peningkatan layanan, publik pengguna transportasi berbasis rel ini memiliki harapan bahwa layanan kereta di Indonesia, khususnya Jabodetabek, akan menjadi lebih baik.
Artinya, tidak ada lagi overload penumpang di setiap gerbong, sehingga ada penumpang yang nekat naik kereta dengan duduk di atap gerbong sebagaimana yang terjadi saat KRL Ekonomi masih dioperasionalkan.
Pemandangan seperti itu memang tidak ada lagi sekarang, akan tetapi overload masih berlangsung, sehingga tak jarang di jam-jam sibuk di mana masyarakat berangkat kerja di pagi hari, dan masyarakat pulang kerja di sore hari, penumpang berdesak-desakan, sehingga untuk berdiri dengan kedua kaki menapak di lantai pun susah, dan tak jarang pula overload penumpang ini memicu keributan antar sesama penumpang.
Dari pengamatan saya, ada 'kebodohan yang dilakukan manajemen PT KAI Commuter Jabodetabek dalam hal ini, karena di saat peak hours seperti itu, kereta yang dioperasikan kerap hanya 8 atau 10 gerbong, sementara di luar jam sibuk, seperti di siang hari di mana penumpang tidak banyak, kereta yang dioperasikan bisa 12 gerbong.
Seharusnya, kereta dengan 8 dan 10 gerbong dioperasikan di luar jam sibuk, sementara di jam-jam sibuk semua kereta yang dioperasikan sebanyak 12 gerbong.
Selain itu, KAI Commuter Jabodetabek juga seharusnya mengupayakan sebuah sistem yang memungkinkan tak ada lagi overload penumpang di setiap gerbong, terutama di jam-jam sibuk. Dan sejauh ini, saya tidak pernah melihat adanya upaya untuk itu.
Gerbong perempuan
Dari 15 korban tewas akibat insiden KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL Commuterline tujuan Cikarang, pada Selasa (28/4/2026) malam 10 diantaranya telah dapat diidentifikasi, dan semuanya berjenis kelamin perempuan.
Salah satu dari korban tewas tersebut adalah Nurlaela, seorang guru sekolah dasar yang juga alumni Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Saya terguncang dan sedih, karena saya juga alumni universitas tersebut.
Selama ini, PT KAI memang membuat kebijakan bahwa gerbong pertama dan terakhir atau gerbong paling belakang, adalah gerbong khusus perempuan. Tujuannya sangat baik, agar penumpang perempuan nyaman dan terbebas dari kemungkinan mengalami pelecehan dari penumpang laki-laki, sebagaimana yang pernah terjadi di gerbong umum.
Namun, kebijakan itu bukan tanpa keluhan,.karena kebijakan itu menempatkan perempuan pada posisi yang paling berisiko, yakni jika terjadi kecelakaan sebagaimana yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin kemarin, perempuan lah yang menjadi korban terbanyak.
Karenanya,.jangan heran, jika selama ini banyak perempuan yang enggan naik di gerbong pertama dan terakhir, karena sadar risiko yang harus ditanggung.
Saya setuju pada usulan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi agar gerbong khusus perempuan dipindahkan ke tengah, karena bukan saja memperkecil risiko menjadi korban kecelakaan, akan tetapi juga membuat perempuan lebih nyaman dalam menggunakan layanan kereta api.
Copot Drut KAI dan Menhub
Tanpa bermaksud mencari kambing hitam, tapi kalau pemerintah benar-benar ingin memperbaiki layanan kereta api agar musibah yang sama tidak terulang, menurut saya Dirut PT KAI harus dicopot. Semoga dengan adanya pergantian kepemimpinan, kebijakan yang dibuat akan membuat KAI menjadi BUMN dengan kinerja yang terbaik.
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto juga hendaknya mengevaluasi Menteri Perhubungan Duddy Purwagandhi, karena dengan tidak adanya peningkatan layanan, kecuali pembangunan fisik yang terus digenjot, sehingga fisik stasiun kereta saat ini banyak yang keren, mengindikasikan kalau sang Menteri tidak bekerja optimal.
Seharusnya, karena kereta api merupakan moda transportasi yang sangat diminati masyarakat, sang Menteri memberikan perhatian lebih dengan meningkatkan sistem.operssionalnya, dan.layananmya, bukan hanya menggenjot pembangunan fisik.
Apa artinya stasiun kereta yang megah,.jika masyarakat tidak nyaman berkereta api, bahkan terjadi insiden mengerikan sebagaimana yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur?
Semoga ini menjadi perhatian Bapal Presiden Prabowo Subianto.(*)







