Teheran , Harian Umum - Iran mengingatkan Amerika Serikat (AS) agar segera mencabut blokade terhadap perairan Iran yang dilakukan sejak 12 April 2026.
"Musuh akan segera melihat 'senjata yang mereka takuti', dan senjata itu akan dikerahkan dalam jarak dekat," kata Komandan Angkatan Laut Iran, Laksamana Shahram Irani, dikutip dari Al Mayadeen, Kamis (30/4/2026).
Ia mengungkapkan bahwa pasukan Angkatan Laut Iran telah 7 kali menyerang Kapal Induk AS Abraham Lincoln, sehingga kapal itu rusak parah dan untuk sementara tidak dapat beroperasi.
Ia juga memperingatkan bahwa Iran dapat bergerak untuk menutup Selat Hormuz dari sisi Laut Arab, dan pasukan Anngkatan Laut Iran siap melakukan operasi cepat.
"Musuh mengira mereka akan mencapai hasil melawan Iran dalam waktu 3 hari hingga seminggu, tetapi persepsi mereka ini telah berubah menjadi lelucon," katanya.
Irani menyoroti posisi maritim Iran, dengan mengatakan bahwa akses Iran ke jalur perairan utama memberikan keuntungan strategis.
Ia mencatat bahwa tiga jalur laut utama berada dalam lingkup pengaruh Iran, khususnya Selat Hormuz, yang tetap menjadi salah satu jalur transit energi terpenting di dunia.
Irani menekankan bahwa postur angkatan laut Iran mengirimkan pesan yang jelas bahwa setiap ancaman akan ditanggapi dengan respons yang tegas.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa AS dan Israel telah gagal mencapai tujuannya, dan bersumpah bahwa Iran akan keluar sebagai pemenang dari perang yang dikobarkan kedua negara itu.
Dalam pesan audio yang ditujukan kepada rakyat Iran, Ghalibaf mengatakan bahwa musuh telah berupaya untuk "menjatuhkan sistem dalam tiga hari" sejak hari pertama penyerangan pada tanggal 28 Februari yang menewaskan Pemimpin Iran Sayyed Ali Khamenei dan komandan militer senior, tetapi akhirnya gagal.
"Musuh kemudian mengalihkan fokus untuk melumpuhkan kemampuan militer ofensif Iran hanya untuk menemukan bahwa laju serangan rudal dan pesawat tak berawak Iran terus berlanjut tanpa henti," katanya.
"Mereka kemudian mencoba mengaktifkan gerakan separatis di bagian barat negara kita, tetapi berkat Tuhan dan upaya pasukan militer dan intelijen, mereka gagal lagi," imbuh Ghalibaf.
Setelah berbulan-bulan merencanakan dan menyerang instalasi keamanan, lanjut Ghalibaf, AS dan Israel merencanakan kudeta selama perayaan Rabu malam terakhir tahun Persia, dan mencoba menyusupkan pasukan ke Iran.
"Sebuah rencana yang diuji di Isfahan yang menurut saya berubah menjadi "skandal Tabas kedua," pungkasnya. (man)


