Jakarta, Harian Umum - Para analis memperingatkan bahwa setiap pembalasan Iran terhadap serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyasar infrastruktur energi negara itu, dapat menjerumuskan ekonomi global ke dalam krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Peringatan itu disampaikan di tengah munculnya pemberitaan di media-media AS bahwa negaranya bersama Israel akan segera menyerang fasilitas energi Iran.
Hal itu terjadi karena Iran bukan saja terus saja menembaki kapal-kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz, tapi juga karena AS gagal membawa untuk kembali Iran ke meja perundingan, setelah AS melanggar Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad yang ditandatangani kedua negara pada 18 Juni lalu.
"Seiring media AS meningkatkan pemberitaan yang mengindikasikan serangan Amerika dan Israel yang akan segera terjadi terhadap infrastruktur energi Iran, para analis memperingatkan bahwa setiap pembalasan Iran terhadap aset energi penting di seluruh kawasan dan Israel dapat menjerumuskan ekonomi global ke dalam krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya," demikian dilansir Fars News, Sabtu (1/8/2026).
Kantor berita Iran itu menjelaskan, krisis itu dapat terjadi karena rudal-rudal Iran daat menjangkau fasilitas energi paling penting di dunia yang berada di negara-negara sekutu AS di Asia Barat.
Fasilitas energi mana sajakah yang dimaksud? Berikut datanya:
1. Ladang Minyak Ghawar, Arab Saudi
Ladang minyak terbesar di dunia ini diperkiraan memiliki cadangan minyak sebanyak 75–83 miliar barel. Gangguan apa pun terhadap ladang minyak ini akan menghilangkan sekitar 5 juta barel per hari (bpd/barrel per day) minyak mentah ultra-ringan dari pasar minyak global. Angka itu setara dengan lebih dari 5% pasokan minyak global.
2. Fasilitas Abqaiq dan Khurais, Arab Saudi
Kompleks pengolahan minyak terbesar di dunia ini merupakan jantung sistem ekspor Arab Saudi. Penutupan fasilitas ini akan memangkas produksi minyak Saudi sebesar 50%, yang berarti menghilangkan sekitar 5,7 juta bpd dari pasar global.
Lebih dari 7 juta bpd saja pasokan minyak hilang dari Abqaiq, menjadikannya salah satu titik kritis terpenting dalam sistem energi global.
3. Ladang Minyak Zakum, Uni Emirat Arab (UEA)
Ladang minyak lepas pantai terbesar kedua di dunia inj mengekspor lebih dari 1 juta bpd. Serangan apa pun terhadap Zakum akan sangat mengganggu ekspor minyak mentah UEA.
4. Kilang Ruwais, UEA
Kilang tunggal terbesar di kawasan Asia Barat ini memiliki kapasitas pengolahan minyak sekitar 800.000 bpd. Penutupan yang berkepanjangan akan memaksa UEA untuk mengurangi produksi minyak mentah lebih cepat dan memicu efek berantai di seluruh industri transportasi, pertanian, penerbangan, dan otomotif global.
5. Lapangan Minyak Utara dan Kompleks LNG Ras Laffan, Qatar
Lapangan minyak ini merupakan reservoir gas alam terbesar di dunia, berisi 48 triliun meter kubik gas, atau sekitar 25% dari cadangan global. Ras Laffan menyumbang sekitar 20% dari perdagangan LNG global.
Selama perang 40 hari, serangan Iran dilaporkan menghilangkan hingga 19 juta ton pasokan LNG dari pasar dan mengurangi kapasitas produksi LNG Qatar sebesar 17%, dengan pemulihan yang berpotensi memakan waktu bertahun-tahun.
6. Ladang Minyak Burgan, Kuwait
Ladang minyak terbesar di Kuwait ini memiliki cadangan minyak sekitar 67 miliar barel. Selama konflik yang terjadi belakangan ini, sekitar 2 juta bpd produksi Kuwait dilaporkan dihentikan. Kerusakan pada infrastruktur minyak Kuwait selama konflik 40 hari diperkirakan mencapai $25 miliar.
7. Kilang Sitra dan Fasilitas Ma'ameer, Bahrain
Selama perang 40 hari (28 Februari hingga 8 April 2026), kilang Sitra dilaporkan terkena serangan dua kali, merusak dua unit distilasi dan tangki penyimpanan bahan bakar, yang mendorong Bahrain Petroleum Company (Bapco) untuk menyatakan keadaan kahar (force majeure).
Karena ketergantungannya yang besar pada fasilitas-fasilitas ini, Bahrain dianggap sebagai salah satu negara PGCC yang paling rentan terhadap gangguan energi
8. Ladang Gas Leviathan dan Tamar, Israel
Leviathan memasok sekitar 53% gas alam Israel, sementara Tamar menyediakan 44%. Selama Perang Ramadan, Israel menangguhkan operasi di Leviathan dan Karish selama 30–40 hari, dengan kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 1,5 miliar shekel (sekitar $400 juta).
Tamar secara luas dianggap sebagai jalur kehidupan energi Israel, memasok hampir seluruh permintaan gas domestik.
Menurut Rystad Energy, Perang Ramadan mengganggu produksi minyak sekitar 11,8 juta bpd di enam negara Teluk Persia—gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern. Hanya dalam tiga bulan, 1 miliar barel minyak dikeluarkan dari pasar global, setara dengan 2,5 kali seluruh Cadangan Minyak Strategis AS, dengan proyeksi menunjukkan angka tersebut dapat mencapai 2 miliar barel pada akhir tahun.
Dampaknya, harga minyak naik menjadi sekitar $115 per barel, sementara lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz turun menjadi kurang dari 20% dari tingkat sebelum perang.
"Dalam kondisi seperti itu, setiap peningkatan ketegangan dapat dengan cepat memicu kembali dan memperdalam krisis energi dan ekonomi global," pungkas Fars. (man)







