Jakarta, Harian Umum - Kurs rupiah terhadap dolar AS kembali terdepresiasi pada perdagangan Selasa (25/3/2025) pagi di pasar spot.
Rupiah dibuka pada level 16.550/dolar AS, dan mengalami tekanan hingga jatuh 93,6 poin atau 0,57% pada pukul 10:39 WIB, dan berada di Rp16.627/dolar AS menurut data Investing.
Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies) Anthony Budiawan mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah memang sudah terjadi terus menerus.
"Selama periode kepemimpinan Gubernur Bank Indonesia di bawah Perry Warjiyo, sejak Mei 2018 sampai sekarang, nilai tukar rupiah sudah terdepresiasi dari sekitar Rp14.000 per dolar AS menjadi lebih dari Rp16.500 saat ini," kata Anthony melalui siaran tertulis, Selasa (25/3/2025).
Menurut dia, hal ini menunjukkan bahwa Bank Indonesia (BI) nampaknya tidak berdaya dan gagal menjaga nilai tukar rupiah agar tidak terdepresiasi terus menerus.
"Kalau melihat tren seperti ini, kemungkinan kurs rupiah akan tembus Rp17.000 sangat besar, bahkan bisa lebih buruk dari itu," imbuhnya.
Maka, ia mengajak masyarakat untuk menunggu kebijakan apa yang akan diambil oleh BI untuk memperkuat kurs rupiah.
"Katanya, fundamental ekonomi Indonesia sangat bagus. Jadi, tidak ada alasan nilai tukar rupiah melemah, tetapi faktanya nilai tukar rupiah terus melemah, kenapa? Apakah berarti ada salah kebijakan? Hanya Bank Indonesia yang dapat menjelaskannya," tegas Anthony.
Ia mengingatkan bahwa stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi tanggung jawab BI yang merupakan lembaga independen di luar eksekutif (pemerintah).
"Artinya, pemerintah tidak bisa mencampuri urusan moneter, termasuk urusan penentuan suku bunga acuan yang bisa pengaruhi nilai tukar rupiah," pungkas Anthony. (rhm)




