GEMBAR-GEMBOR akan membentuk Zaken Kabinet, tapi belasan orang yang dipanggil untuk masuk kabinet adalah orang Jokowi. Teriak basmi korupsi, tetapi Program Food Estate berbiaya triliunan yang ditanganinya, mangkrak.
--------------------------
Ole: M Rizal Fadillah
Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Setelah membisu terkait urusan Fufufafa, kini bawa-bawa Veronica Tan (mantan istri Ahok) ke Kertanegara.
Semua tahu moral Tan dalam kasus Ahok. Diisukan jadi menteri yang ngurus ibu dan anak lagi. Entah sekuat atau selemah apa "sense of morality" Prabowo. Apalagi bila harus menukik pada komitmen dan pelaksanaan keagamaan, bakal lebih parah lagi.
Prabowo-Gibran bukan pasangan yang menang bersih, rakyat tahu itu. Namun, dipaksa untuk memaklumi. Gibran yang diminta mendampingi tidak menjadi nilai tambah. Sayangnya, serangan gencar masyarakat atas Gibran dijawab Prabowo dengan makan malam spesial bersama Jokowi di Jakarta yang berlanjut di Surakarta.
Meski belum dilantik, calon kabinet mulai diperkenalkan lewat pemanggilan. Perkenalan awal dengan senyum, sembah dan lambaian. Penuh rasa bangga bagai pilihan raja. Nyinyiran mulai muncul mengingat belasan yang dipanggil adalah "orang Jokowi". Ada yang menyebut dikira Kabinet Zaken, tak tahunya Kabinet Seken. Ada pula celetukan kabinet Prabowo rasa Mulyono, Rezim Wiwi jilid 3, Rezim Wowo jilid 1, dan. Kabiinet Fufufafa.
Ketidakpercayaan adalah awal yang buruk. Bagaimana akan mendapat support publik yang luas jika yang dijalankan justru kepentingan sempit? Jumlah anggota kabinet yang banyak menggambarkan pelaksanaan dari model politik dagang sapi, bukan kerja, tapi citra dan hanya banyak gaya. Kabinet berbadan gemuk, tapi berotak kecil. Boros di saat banyak rakyat miskin dan 9 juta lebih kelas menengah jatuh miskin berdasarkan data BPS.
Dengan 'track record' yang tidak terlalu bagus, Prabowo bukan harapan, tetapi kecemasan bagi masa depan. Pendukung atau pengikut tentu wajar jika berpandangan bahwa salah benar ia adalah pemimpin kami. Sebaliknya, bagi oposisi atau pihak yang khawatir, maka sikap terhadap Prabowo harus terus diingatkan dan dikritisi dengan berani.
Prabowo itu sulit dipercaya karena banyak omongan yang tidak sesuai dengan realisasi. Omon-omon gede. Harapan apa untuk "zaken" Bahlil, Zulhas, Airlangga, Erik Thohir, Tito, Sri Mulyani dan Pratikno ? Lompatan ke atas atau nyungsep ke bawah untuk Muhaimin, Yusril, Sri Mulyani, Veronica, Nasaruddin dan Raffi Ahmad ? Rakyat sudah tahu kinerja dan kerawanan mereka.
Prabowo rasa Mulyono memang diakui sendiri. Menurutnya, Jokowi berorientasi pada kemampuan saat menunjuk pembantunya. Ia mengakui meniru Jokowi dan mengajak orang-orang yang berada pada kabinet Jokowi untuk terlibat di pemerintahannya.
Akankah Prabowo akan meniru Jokowi dalam hal omdo-omdo?
Lucu memang dahulu saat di Masjid Istiqlal Prabowo bilang banyak tokoh-tokoh Indonesia yang omong doang alias omdo dalam menebar janji.
"Kita berbuat enggak usah muluk-muluk, enggak usah banyak janji, berbuat sederhana, jangan banyak," katanya.
Omongan Prabowo memang banyak yang bagus, tapi sederhana dalam pelaksanaan.
Masih ingat janji makan siang gratis yang bikin ruwet sendiri? Terus otak-atik narasi untuk menu apologinya. Apalagi janji-janji "sederhana" seperti naik gaji guru, termasuk guru honorer, gaji ASN, TNI dan Polri, Kades dan perangkat Desa serta RW dan RT seluruh Indonesia. Sekolah hingga Perguruan Tinggi Negeri gak bayar, angkutan umum di kota-kota besar gratis, BBM dan listrik disubsidi.
Teriak basmi korupsi dan keras mengancam kader partainya, mampukah mulai mengklarifikasi tuduhan bau korupsi di program Food Estate dan pembelian pesawat serta alutsista lain senilai 500 trilyun di kementriannya? Belum lagi soal pelanggaran HAM masa lalu serta keberanian membongkar kasus Km 50 sebagai "janji" yang dapat membahagiakan HRS dan umat Islam.
Dengan awalan buruk, profil dan komposisi bakal kabinetnya, maka masa depan keemasan hanya akan menjad fatamorgana. Masa pemerintahan Prabowo adalah masa kecemasan, bahkan mungkin penindasan.
Prabowo sulit dipercaya.
Bandung, 16 Oktober 2024







