Jakarta, Harian Umum - Pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM) bisa menjadi momentum untuk mengoptimalkan penggunaan energi terbarukan. Namun, hal ini tidak dilakukan pemerintah sehingga pertumbuhan ekonomi dianggap masih melambat.
"Subsidi BBM itu sudah lama dicabut, tapi ternyata malah menyebabkan defisit neraca migas cukup berat. Pemerintah bisa mengalihkan dananya ke sumber energi terbarukan. Namun, dia sudah kehilangan momentumnya," ujar pengamat ekonomi Universitas Indonesia, Fitra Faisal Hastiadi dalam diskusi Forum Ekonomi Milenial, di Jakarta, Rabu (10/4/2019).
Diskusi bertemakan "Pertumbuhan ekonomi 5 Persen Jebakan" ini, pemerintah cukup minim dalam melibatkan pengusaha swasta untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi. Saat ini, ungkapnya.
Banyak proyek pembangunan hanya melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sehingga dampak ekonomi untuk masyarakat menjadi minim.
Bahkan, katanya, pemerintah berlebihan mengeluarkan obligasi dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur. Prodinya mencapai 85 persen dari penerbitan obligasi yang ada. Sisanya, obligasi itu dikeluarkan BUMN dan swasta.
Dalam acara tersebut hadir juga sebagai pembicara antara lain, DR.Rizal Edi Halim, Suryani Motik yang mewakili praktisi pengusaha , dan Ketua Forum Alumni Peduli NKRI Muhammad Sirod
Hal yang sama juga dikatakan oleh praktisi ekonomi Universitas Indonesia, Rizal Edi Halim mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi dari sisi lapangan usaha ditopang oleh manufacturing, pertanian dan pertambangan. Bahkan, sektor manufaktur dan pertanian selalu menjadi fokus pembangunan karena menyerap tenaga kerja paling banyak. Namun, sejak 2014 lalu kedua sektor itu ditinggalkan. Pemerintah malah fokus untuk pembangunan infrastruktur.
"Namun, sejak 2014 lalu kedua sektor itu ditinggalkan. Pemerintah malah fokus untuk pembangunan infrastruktur. Padahal kedua sektor ini penyumbang PDB terbesar dan penyerap lapangan kerja terbanyak," tegasnya.
Sedangkan Ketua Forum Alumni Peduli NKRI Muhammad Sirod, ini mengatakan mengapa ekomoni saat ini bisa jalan ditempat sedangkan pemerintah saat ini gembar-gembor pembangunan infrastruktur yang berdampak pada percepatan pertumbuhan ekonomi di seluruh negeri.
Perangkap jualan iklan ini tentang pertumbuhan yang tidak sesuai dengan realita dilapangan, yang imbasnya. Banyak masyarakat yang merasa tertipu akan janji-janji manis dari periode pemerintah saat ini. (tqn)







