Jakarta, Harian Umum- Presiden RI ke-7 yang juga Capres petahana di Pilpres 2019, Joko Widodo alias Jokowi, menawarkan janji baru untuk rakyat Indonesia.
Melalui Tim Kampanye Nasional (TKN)-nya, Jokowi meyakini jika ia memenangkan Pilpres dan menjadi presiden untuk periode kedua, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa melesat hingga level 7,2% pada 2023.
Sebelumnya, saat kampanye Pilpres 2014, Jokowi menjanjikan pertumbuhan ekonomi mencapai 7%, namun yang terjadi pertumbuhan ekonomi hanya di kisaran 5%, anjlok dari 6% di era pemerintahan SBY. Pertumbuhan ekonomi pada 2018 hanya 5,17%.
Tak pelak, janji baru ini hanya jadi bahan cemooh warganet karena tak percaya pada janji baru itu.
"Janji baru lagi? Izinkan saya #ketawa sambil #mikir," kata mantan staf Khusus Menteri ESDM yang juga mantan komisaris PT Bukit Asam, Muhammad Said Didu, seperti dikutip harianumum.com dari akun Twitter-nya; @saididu, Jumat (8/2/2019).
"Jokowi-Ma'ruf Amin: ekonomi Indonesia melesat 7,2% pada 2023. Melesat atau meleset?" kata politisi Partai Demokrat yang juga merupakan salah satu novelis terkenal Indonesia, Zara Zetira ZR, melalui akun Twitter-nya @zarazetirazr.
"Presiden gak paham ekonomi sok ngerti ekonomi," cemooh akun @rajatapura.
"Jokibul terus ngibul," sembur akun @abe_nasar.
Seperti dilansir sejumlah media Tanah Air, Kamis (7/2/2019), Direktur Program TKN Jokowi-Ma'ruf, Aria Bima meyakini pertumbuhan ekonomi bisa melesat hingga level 7,2% pada 2023.
Keyakinan itu tentu dengan catatan Jokowi terpilih kembali sebagai presiden pada Pilpres yang dihelat tahun ini.
Keyakinan itu, menurut dia, didasari oleh program ekonomi dalam Nawacita II yang akan lebih realistis dan tajam ketimbang Nawacita I.
"Seperti dirilis Tusk Advisory Pte. Ltd., ada US$ 100 miliar ataubsetara Rp 1.500 triliun dari total nilai proyek infrastruktur yang akan tuntas pada 2019-2020," katanya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (18/10/2018).
Dalam kurun lima tahun sejak 2019, imbuh dia, Indonesia akan memanen apa yang telah ditanam oleh program ekonomi pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, apabila diiringi oleh kebijakan yang berkelanjutan.
"Sampai 2024, mentok 5,3% kalau tanpa pembangunan infrastruktur yang dikerjakan pemerintahan Jokowi. Karena konektivitas akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi baru," imbuhnya.
Politisi PDIP ini yakin, selain mengerek pertumbuhan ekonomi, dampak pembangunan infrastruktur yang akan dioptimalkan oleh pasangan nomor urut 01 adalah memperkuat struktur industri agar produk Indonesia masuk dalam rantai pasok global.
"Dalam Nawacita bahwa kita tidak hanya menjadi obyek perang ekonomi global, tetapi menjadi pelaku. Untuk itu, daya saing industri harus digarap sehingga kita tidak hanya ekspor bahan baku, tapi barang jadi," kata Aria. (rhm)







