Jakarta, Harian Umum-Kebijakan genap-ganjil kios yang digulirkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menuai protes dari pedagang. Sistem yang sudah diperuntukan bagi kendaraan roda empat ini dirasa tidak tepat diterapkan pada kios-kios pedagang pasar tradisional.
"Hanya pedagang yang diatur ganjil genap, kalau masyarakat kan tidak. Tetap saja pasar masih ramai, karena pengunjung tidak dibatasi. Imbasnya, pedagang tetap rugi bagi yang tidak berjualan," ujar salah satu pedagang makanan di Pasar Senen blok D, Erni(46 tahun), Senin (15/6).
Menurutnya, kebijakan Gage dianggap bakal mengalihkan pelanggan untuk berbelanja di tempat lain. Hal ini diyakini menjadi simpul kerugian bagi pedagang yang menjalankan ganjil genap.
"Rasanya yang datang malah tetap banyak, tapi kasihan kios yang tutup, pelanggannya banyak yang nggak tahu jadwal tutup apa buka, bisa-bisa pelanggan datang, kita tutup, malah belanja ke tempat lain," tambahnya.
Lain lagi dengan apa yang dialami pembeli. Kerumunan malah semakin tersentral di satu titik saja. Sebagaimana di rasakan Tono, 38 tahun, warga Jakarta Pusat yang kerap berbelanja di Pasar Senen.
"Sebenernya saya enggak tau ada aturan (gage) ini, ya datang, datang aja. Tapi menurut saya justru makin kelihatan berkumpul di satu tempat. Misalnya di lantai bawah, tadinya mau beli ke penjual langganan, tapi tutup. Jadi beli ke yang lain, banyak orang milih di toko itu. Jadi lain tempat kosong, lain tempat makin numpuk," ungkapnya. (hnk)







