Jakarta, Harian Umum - Kurs rupiah terhadap dolar AS kembali memperlihatkan tren pelemahan pada perdagangan Kamis (20/6/2024).
Data Bloomberg menunjukkan, rupiah di pasar spot dibuka turun 0,16% atau 26 poin ke posisi Rp16.391/dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terpantau naik 0,01% ke posisi 104,890.
Rupiah lalu bergerak fluktuatif dengam kecenderungan melemah.
Pada pukul 11:00 WIB, Rupiah terpantau berada di Rp16.420/dolar AS, terkoreksi 55 poin atau 0,34%.
Pelemahan ini terjadi menjelang pengumuman BI Rate hasil RDG Bank Indonesia Juni 2024 pada hari ini, Kamis (20/6/2024). Pasar menunggu apakah BI akan mempertahankan suku bunga di level 6,25% atau justru menaikkannya.
Sebelumnya, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup menguat di rentang Rp16.320 - Rp16.390/dolar AS
Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh data neraca perdagangan yang rilis kemarin.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2024 kembali mencetak surplus US$2,93 miliar, atau naik US$0,21 miliar secara bulanan. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan RI mencapai US$13,06 miliar, surplus selama 49 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Adapun, surplus Mei 2024 lebih ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas, yaitu sebesar US$4,26 miliar dengan komditas penyumbang surplus utamanya bahan bakar mineral HS 27, lemak dan minyak hewani nabati HS 15, besi dan baja HS 72.
Surplus neraca perdagangan nonmigas Mei 2024 lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan lalu, namun lebih tinggi dibandingkan dengan Mei 2023.
Sementara itu dari global, pasar kini memperkirakan kemungkinan sebesar 67% bahwa The Fed akan mulai menurunkan suku bunga pada bulan September, menurut alat CME FedWatch, dengan perkiraan penurunan sebesar hampir 50 basis poin untuk sisa tahun ini.
“Sementara itu, inflasi Inggris kembali ke target Bank of England sebesar 2% pada bulan Mei untuk pertama kalinya dalam hampir tiga tahun,” kata Ibrahim dalam riset harian, Rabu (19/6/2024), seperti dilansir Bisnis.
Penurunan inflasi harga konsumen tahunan dari angka 2,3% di bulan April sejalan dengan ekspektasi median para ekonom dalam jajak pendapat Reuters dan menandai penurunan tajam dari angka tertinggi dalam 41 tahun sebesar 11,1% yang dicapai pada bulan Oktober 2022.
Pasar memperkirakan, peluang sekitar 50% penurunan suku bunga pertama pada bulan Agustus dan hampir setengah poin persentase pelonggaran moneter pada tahun 2024.
Bank of England (BoE) bertemu pada hari Kamis untuk membahas kebijakan suku bunga, tetapi diperkirakan tidak akan melakukan perubahan apa pun. (man)


