Jakarta, Harian Umum - Massa relawan dan organisasi masyarakat (Ormas) pendukung pasangan calon nomor urut 1 di Pilkada Jakarta 2024, Ridwan Kamil-Suswono (RIDO), Senin (2/12/2024) sekitar pukul 15.45 WIB menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor KPUD DKI Jakarta, Jalan Raya Salemba, Jakarta Pusat.
Mereka memprotes penyelenggaraan Pilkada yang dinilai curang dan mengajukan mosi tidak percaya, bahkan meminta agar Pilkada dilangsungkan dua putaran.
Sebelum berorasi, massa lebih dahulu menyuarakan yel-yel sambil memutar lagu “Oke Gas” yang mirip dengan lagu kampanye pendukung Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024.
“Dua dua dua putaran, dua putaran setelah tanggal 16 Desember,” seorang orator memandu massanya dalam menyuarakan aksi yel-yel tersebut.
Kecurangan Pilkada Jakarta yang diungkap massa Paslon yang diusung 12 partai dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus itu antara lain soal pencoblosan di TPS 028 Pinang Ranti, Jakarta Timur, karena katanya, di TPS itu ada surat yang sudah dicoblos untuk Paslon nomor urut 3 Pramono Anung - Rano Karno.
“KPU tidak becus! KPU tidak bisa menyelenggarakan Pilkada dengan baik,” tuding salah satu orator.
Aksi ini tidak berlangsung lama, karena pukul sekitar pukul 16:35 WIB mereka telah bubar.
Koordinator aksi yang juga anggota Tim Pemenangan RIDO, Ramdan Alamsyah, menegaskan bahwa aksi ini antara lain dilakukan untuk menyampaikan mosi tidak percaya kepada KPUD DKI Jakarta.
“Betul (kami menyampaikan mosi tidak percaya). Bagaimana kita bisa percaya ketika KPU-nya tidak punya, tidak ada yang namanya etikanya tidak dipakai,” katanya.
Ramdan mengaku, salah satu faktor yang membuat pihaknya meyakini Pilkada Jakarta 2024 bermasalah adalah rendahnya partisipasi warga Jakarta di pesta demokrasi kali ini, karena menurutnya, hal itu menunjukkan kalau KPU sudah tidak lagi dipercaya masyarakat.
Karenanya, kata dia, mosi tidak percaya yang disampaikannya ini harus diselesaikan dengan putaran kedua Pilkada Jakarta.
“Logikanya begini; yang partisipasinya 70 persen saja waktu tahun 2017 (itu berlangsung) dua putaran. Nah, bagaimana yang partisipasinya rendah itu (dilaksanakan) satu putaran?” tanyanya
Ia bahkan mengatakan, jika Pilkada Jakarta dipaksa selesai dalam satu putaran, maka hal ini akan menjadi satu anomali yang diatur oleh Ketua KPU Jakarta, Wahyu Dinata, dan jajarannya.
“Anomali apa lag mau dipertontonkan, wahai Wahyu Dinata dan kawan-kawan?" tudingnya.
Seperti diketahui, sebelumnya Tim Paslon nomor urut 3 Pramono - Rano mengklaim bahwa dari hasil real count pihaknya, Pram - Rano merwih 50,09% suara, sehingga menang satu putaran. (rhm)







