Jakarta, Harian Umum - Sebuah Focus Group Discussion (FGD) tentang Dewan Keamanan Nasional (WANKAMNAS) di Indonesia digelar Kamis (18/7/2024), di kediaman Laksda TNI (Purn) Rosihan Arsyad di Jakarta Selatan.
Acara yang dimoderatori Prof. Yudhie Haryono ini dihadiri sejumlah tokoh penting dan ahli keamanan nasional seperti L Bowo Widodo, Lily Sastriyanti, Ratno, Ashari, M. Haris Zulkarnaen, dan Yaya Sunaryo.
"FGD ini diselenggarakan dalam upaya meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya WANKAMNAS," kata Yudhie seperti dikutip dari siaran tertulisnya, Minggu (21/7/2024).
Marsma Oktav Siagian mengatakan, pentingnya tata kelola yang baik dalam WANKAMNAS, karena menurutnya, WANKAMNAS berbeda dengan Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (KOPKAMTIB) di era Orde Baru.
"WANKAMNAS lebih berfungsi sebagai forum pengambilan keputusan kolektif yang melibatkan berbagai elemen strategis negara," katanya.
Selain itu, Oktav juga mengatakan bahwa WANKAMNAS harus memiliki peran yang jelas dalam menjaga stabilitas dan keamanan nasional.
Sementara itu, dalam paparannya, Laksda TNI (Purn) Rosihan Arsyad menyampaikan kritik terhadap kebijakan-kebijakan keamanan yang cenderung bersifat inward-looking.
"Kita terlalu fokus pada masalah internal dan mengabaikan ancaman eksternal yang bisa mempengaruhi stabilitas nasional," kata Rosihan.
Ia menekankan perlunya pembentukan WANKAMNAS di Indonesia dengan struktur yang efisien untuk menghadapi tantangan-tantangan keamanan di masa depan.
Marsma Soni Astaryadi menambahkan, WANKAMNAS harus dikaitkan dengan konsep Ancaman, Gangguan, Hambatan, dan Tantangan (AGHT) yang dihadapi bangsa ke depan.
"WANKAMNAS harus memperjelas posisi TNI dalam menghadapi gerakan separatisme dan berbagai bentuk ancaman lainnya," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya kerjasama antara TNI dan elemen-elemen strategis lainnya dalam menjaga kedaulatan negara.
Dalam kesimpulannya, para peserta FGD sepakat bahwa keberhasilan presiden baru sangat ditentukan oleh hadirnya Dewan Keamanan Nasional (NSC) dan roadmap program keamanan nasional yang bersikap outward-looking.
"Kita harus open-minded dan siap menjangkau pihak-pihak lain dalam menghadapi tantangan global," kata Yudhie Haryono.
Menurut dia, sikap Indonesia yang lebih proaktif dan mengatur dunia dianggap sebagai kunci dalam membangun keamanan nasional yang kokoh.
FGD ini menjadi langkah awal yang penting dalam upaya pembentukan WANKAMNAS di Indonesia. Diharapkan hasil diskusi ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan keamanan yang lebih komprehensif dan adaptif terhadap dinamika global. (rhm)


