Jakarta, Harian Umum- Meski belum genap sebulan beroperasi, Bank Sampah Peduli Gambir telah membuat para pemulung galau karena kesulitan mendapatkan sampah dan barang bekas yang dapat diuangkan.
"Mereka protes kepada PPSU (Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum) yang kami libatkan dalam program ini," jelas Kasie Ekonomi Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Ekbang-LH) Kelurahan Gambir, Jakarta Pusat, Rukman Setiawan, kepada harianumum.com di kantornya, Kamis (8/11/2018).
Diakui, jumlah pemulung yang protes tak hanya satu dua orang, melainkan puluhan.
"Tapi kepada PPSU kami katakan, kalau diprotes lagi, bilang saja bahwa Bank Sampah Peduli Gambir merupakan kebijakan pimpinan." imbuhnya.
Bank Sampah Peduli Gambir dilaunching 12 Oktober 2018 sebagai implementasi UU Nomor 18 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah.
Melalui program ini, Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, mengerahkan 100 dari sekitar 104 PPSU untuk memilah sampah yang masih dapat didaur ulang dan yang tidak, guna mengatasi permasalahan sampah di lingkungannya, sekaligus untuk menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan.
Oleh PPSU, sampah-sampah yang menjadi incaran pemulung, seperti kardus, kertas, botol air mineral dan lain-lain, dikumpulkan, dipilah, dibersihkan, dan dikarungi sesuai jenisnya. Semua kegiatan ini dilakukan di markas Bank Sampah Peduli Gambir di halaman belakang kantor Kelurahan Gambir.
Setiap sepekan sekali, jelas Rukman, petugas dari Dinas Lingkungan Hidup datang untuk membeli sampah-sampah daur ulang itu untuk dijual lagi kepada para pengepul sampah.
Kardus bekas dihargai Rp1.400/kilogram, koran bekas Rp2.000/kilogram dan kertas HVS/kwarto bekas Rp22.000/kg.
Pada pekan pertama penjualan menghasilkan pemasukan sebesar Rp1,124 juta, pekan kedua Rp1,491 juta dan pekan ketiga Rp2,4 juta.
Uang hasil penjualan ditransfer ke rekening para PPSU di BNI.
Rukman mengakui, meski PPSU kini mendapat pekerjaan ekstra, namun mereka happy karena mendapatkan penghasilan tambahan. (rhm)







