Jakarta, Harian Umum- Teluk Jakarta kembali disorot publik. Bila sebelumnya karena proyek reklamasi dan limbah industri yang mencemari perairan itu, kali ini akibat timbunan sampah setinggi 1,5 meter.
Sampah itu diduga teronggok karena terbawa air pasang laut (rob) dan angin darat.
Meski demikian aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Eknas Sawung, menilai kalau tumpukan itu muncul akibat buruknya manajemen pengelolaan sampah.
"Persoalan bukan di laut, ini karena kinerja (instansi terkait yang) buruk, tidak bisa mengelola manajemen sampahnya," kata dia dalam wawancara dengan tvOne, Minggu (18/3/2018).
Dia menegaskan, Teluk Jakarta merupakan muara aliran 13 kali/sungai yang melintasi Jakarta, yang berhulu di kwasan Bogor dan sekitarnya. Maka, jika pengelolaan sampah tidak baik, sampah yang hanyut di 13 kali/sungai itu akan menumpuk di Teluk Jakarta, dimana di situ juga terdapat ada area Hutan Mangrove.
"Saat ini sampah ada di hampir seluruh (area) Teluk Jakarta, karena (di area) ini ada mangrove. Jadi, sampah nyangkut," jelasnya.
Ia juga menyoroti banyaknya sampah pelastik di Teluk Jakarta, baik pelastik berupa bekas pembungkus makanan, bekas sachet sampo, alat pembersih, dan lain-lain karena sampah jenis itu tidak dapat didaur ulang.
"Harus ada solusi dari persoalan ini," tegasnya.
Ketua Komunitas Mangrove Muara Angke, Risnandar, mengatakan, sejak Februari lalu intensitas rob cukul tinggi karena sering kali terjadi, sehingga memunculkan lautan sampah seperti saat ini.
"Bulan Februari ada rob panjang, cukup besar, membawa sampah, yang akhirnya tumpukan sampah setebal sekitar 1,5 meter seperti sekarang," katanya.
Ia berharap, ada respons cepat dari Pemprov DKI melalui Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, karena menurutnya, penanganan sampah itu sejauh ini belum maksimal.
"Harus ada sikap dari pemerintah seperti menggandeng kami untuk bekerja sama dalam menjaga ekosistem, dan membentengi Teluk Jakarta. Membuat dam (bendungam) sebagai pembatas, itu mungkin cukup aman," jelasnya. (rhm)







